Yogyakarta

Garuda May2015 HR_Page_084_Image_0002Siang ini taksi yang saya tumpangi tengah melintasi jalanan kecil di Yogyakarta, melewati rumah-rumah mungil bercat warna-warni, warungwarung, kambing-kambing yang sedang merumput, sekelompok kakek-kakek yang sedang mengobrol di atas kursi bambu, anak-anak sekolah berjilbab dan hamparan sawah. Kami sampai di suatu gang kecil dengan papan bernama, Ikan Lele Mangut Mbah Marto. Saya diberi tahu bila rumah makan ini tiada duanya. Saya melihat-lihat ke dalam dan tampak seorang nenek yang menurut saya adalah Mbah Marto. Dia melihat saya lalu tersipu seraya menutupkan kedua tangan di wajahnya, lalu tak lama kemudian menghilang. Sambil penasaran, saya masuk ke dalam dengan diantar seorang anak laki-laki hingga ke bagian belakang rumah, ke sebuah dapur tua yang agak gelap, dengan dinding hitam berjelaga akibat asap bertahun-tahun dari tungku kayu tempat Mbah Marto memasak lelenya. Kepulan asap dari tungku yang dipakai memasak perlahanlahan keluar melalui sebuah jendela kecil. Seorang wanita tua lainnya yang sedang sibuk mengulek bumbu-bumbu sambil berjongkok di lantai juga langsung tersipu dan menutupkan kedua tangannya di wajah saat melihat saya.

poto paint3Kini, saya pun menjadi ikut tersipu. “Silakan ambil sendiri makanannya,” kata seorang wanita muda yang sedang duduk santai di atas kursi yang menempel ke dinding berwarna kehitaman itu. Di atas dipan bambu beralaskan kain batik tersebut diletakkanlah beragam hasil masakan ikan lele mangut, masakan ikan lele yang digoreng dengan bumbu cabai dan tomat, ayam, tempe dan tahu yang dimasak dalam kuah opor, hati dibungkus daun pisang dan dikukus serta kulit sapi (krecek) yang dimasak dengan daun singkong. Saya pun mengambil sendiri seperti yang diperintahkan, dan menikmati rasa “pesta” yang minus teman-teman ini. Saya duduk di emperan depan sambil menikmati cita rasa yang ditawarkan dalam menu; ikan lele asap dengan daging yang tebal, tempe kuah santan dengan aroma lengkuas favorit saya, dan sayur daun singkong yang dibumbui, disajikan bersama krecek (yang menjadi kegemaran orangorang di daerah ini). Integritas makanan rumahan yang lahir dari dapur para nenek ini memang tiada duanya.

Saya menginap di Hotel Greenhost (greenhosthotel.com), salah satu hotel ramah lingkungan paling luar biasa yang pernah saya datangi—Yogyakarta kembali menunjukkan pesona seninya. Ada sebuah patung besi menggambarkan anak laki-laki yang sedang menggenggam tanaman, pohon tiruan yang besar di halaman, dan tempat makan bergaya Skandinavia yang menyajikan berbagai makanan fusion. Para stafnya sangat ramah dengan kamar saya yang juga sangat nyaman. Tak jauh dari hotel, Pasar Prawirotaman menawarkan berbagai macam barang menarik dan suasana ramah yang saya suka. Sejumlah camilan ketan dan nasi beraroma kelapa yang dibungkus daun pisang bersama rebusan
sayur membuat perut saya terasa kenyang.

Garuda May2015 HR_Page_083_Image_0001Gudeg adalah masakan khas Yogyakarta, yang terbuat dari nangka muda yang dimasak lama di atas kompor dengan isi yang penuh protein seperti ayam, krecek yang kenyal dan telur rebus. Saya menyantap gudeg versi pinggir jalan milik Ibu Tini yang berada di sebelah pasar. Gudeg olahannya menggunakan ayam kampung, dan saya menikmati cita rasa gudegnya yang ringan. Wijilan yang berada tak jauh dari keraton juga dikenal sebagai surga gudeg, tempat barisan para pedagang gudeg, termasuk Gudeg Yu Djum yang terkenal itu. Bakmi Kadin di Jalan Bintaran Kulon adalah tempat makan sederhana yang lebih mirip pujasera, ruangannya dipenuhi gerobak makanan dan penjual yang sibuk melayani pesanan mi legendaris ini. Kunci kelezatan masakan mereka adalah kaldu dari ayam utuh, dan ceker. Mi, ayam, kubis, daun bawang, telur rebus, bawang goreng yang renyah dan beberapa irisan tomat melengkapi mi yang disajikan. Saya dan anak-anak saya langsung membubuhi mi tersebut dengan sambal!

Garuda May2015 HR_Page_086_Image_0002Di Pasar Kerangan yang berada tak jauh dari Teguh, saya jatuh cinta dengan buntil, masakan yang terbuat dari daun yang dibungkus seperti bakso. Saya mencicipi sebuah buntil daun pepaya, juga yang terbuat dari daun keladi, yang direbus hingga terasa lembut seperti krim, disajikan dalam kuah kari encer. Pasar Beringharjo adalah tempatnya nasi pecel, dan tak jauh dari pintu masuk pasar besar ini, Anda dapat menikmati beragam menu vegetarian yang terdiri atas bunga pepaya, kacang-kacangan, kecambah, kubis dan tempe dengan sambal kacang. Pasar Legi Kota Gede juga memiliki berbagai jenis kue tradisional khas tempo dulu dengan kemasan unik. Kopitiam Oey Jogja di Jalan Wolter Mongisidi menyajikan makanan Peranakan yang lezat di restorannya yang bergaya China dan kolonial Belanda ini. Labirin ruang-ruang kecil di dalamnya dicat warna-warna pastel merah muda, hijau dan warna merah ceri yang lembut dan poster-poster masa lampau.

Saat kami bertolak menuju bandara sambil duduk di mobil yang penuh oleh-oleh bakpia, kue favorit khas Yogyakarta, saya kembali membayangkan perjalanan saya di Yogyakarta. Hari belum beranjak gelap namun jalanan sudah sangat hidup; Yogyakarta tengah berubah menjadi kota yang dipenuhi tempat makan bergaya terbuka yang menjamur seperti laundry, dengan beragam spanduk pada tenda yang menawarkan berbagai jenis menu ayam, tempe, ikan dan lainnya, serta pengamen-pengamen yang siap menyeruak di keramaian. Langit sore itu tampak berwarna jingga yang berpadu lembut dengan warna biru. Kesibukan kuliner itu akan terus berlanjut hingga larut malam. Yogyakarta selalu berhasil memukau saya. Di tempat ini selalu ada kejutan kuliner yang tersembunyi di setiap sudutnya. Saya akan kembali lagi!


Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *