Tanjung Bira


 

poto paint1

Sulawesi dikenal sebagai daerah asal para pelaut Bugis. Jack Orchard sengaja terbang ke Tanjung Bira di ujung selatan Sulawesi untuk menemukan tempat nan indah di mana salah satu tradisi bahari paling menarik di dunia masih bertahan hingga kini.
Ara adalah salah satu desa tercantik di Indonesia. Di pinggir jalannya terlihat deretan rumah-rumah panggung terbuat dari kayu nan elok, dengan cat yang pudar oleh matahari. Kebanyakan adalah rumah tua dengan tiang penyangga yang tampak mulai goyah, bak sekumpulan orang tua saling bersandar sempoyongan. Setiap rumah dihiasi dengan pahatan pada bagian penyangga atap. Ada yang bermotif naga atau pendekar, ada juga yang berbentuk kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan nama Allah, atau ayat-ayat dari Al Quran. Beberapa rumah memiliki atap silang yang menyerupai ekor ikan, seolah memberi tahu kepada pejalan kaki yang lewat ISLAND bahwa rumah itu adalah rumah nelayan. Bagian bawah rumah digunakan untuk bermacam kegiatan: ada seorang pria sedang memperbaiki jala, sementara yang lainnya merawat ayam; seorang wanita duduk di depan mesin jahit yang mengeluarkan bunyi kertak-kertuk, dan seorang lainnya dengan terampil menggunakan mesin tenun, membuat sehelai kain ikat yang cantik. Tangga untuk masuk ke dalam rumah menjadi tempat yang menyenangkan untuk duduk-duduk sambil mengamati lalu lalang usai bekerja. Meski ini desa kecil, berjalan kaki di sini bisa memakan waktu lama karena penduduk desa akan mengundang Anda untuk singgah dan mengobrol di rumah mereka.

Ara adalah rumah bagi masyarakat Konjo yang sudah lama sekali menghuni daerah di Sulawesi Selatan ini. Mereka sering dikira orang Bugis, namun orang Konjo sendiri mengaku lebih dekat kekerabatannya dengan orang Makassar, karena 80 persen bahasa mereka sama.  Akan tetapi, sama seperti orang Bugis, orang-orang Konjo adalah salah satu pelaut paling berani di dunia dan bisa dibilang pembuat kapal terbaik di Asia. Konon, cerita tentang keindahan arsitektur Ara dan kehebatan orang Konjo dalam seni pahat telah tersebar ke mana-mana, sampai-sampai Raja Sulawesi La Galigo menugaskan tukang kayu paling mahir di desa itu untuk membuatkannya kapal paling indah yang pernah ada di Sulawesi.Dan sejak itu mereka terus membuatnya. Bahkan, masyarakat Konjo di Ara dan Tanjung Bira telah membuat sejumlah kapal layar terbaik di dunia jauh sebelum penjelajah Barat pertama mulai mengincar daerah yang kemudian mereka sebut sebagai Kepulauan Rempah-Rempah. Lima puluh tahun lalu pantai ini masih menjadi tempat berlabuh armada layar terbesar di dunia, dan dari sinilah perahu-perahu buatan lokal yang dikenal sebagai pinisi memulai pelayaran panjangnya, perjalanan berbulan-bulan menerjang angin monsun hingga ke Papua dan Sumatera.

Garuda May2015 HR_Page_131_Image_0004Beberapa ratus orang di Ara hingga kini masih membuat pinisi kayu menggunakan metode yang hampir tidak berubah selama ratusan tahun. Pengerjaannya sebagian besar masih dilakukan dengan tangan, menggunakan parang dan bor tangan, atau dengan kapak yang di sini disebut bingkung dan dipakai untuk mencongkel inti batang pohon yang besar. Seperti orang Eskimo yang punya banyak istilah untuk menggambarkan salju, Konjo juga memiliki istilah-istilah kelautan yang sukar dicari padanannya. Kadang-kadang sulit memahami makna berbagai jenis kapal yang dibuat di sini: pajjala dengan lekukan pada bagian ujungnya; banggo yang tidak memiliki partisi di bawah geladak; dan jerangka—perahu pancing kecil bersayap—yang disukai para penjelajah laut yang hidupnya tak banyak berubah hingga beberapa abad. Mereka tinggal di kampung di antara pepohonan kelapa Pantai Panrang Luhu di Tanjung Bira (beberapa kilometer dari Ara) selama beberapa bulan terakhir. Itu artinya, kini mereka bersiap untuk kembali mencari ikan ke desa lain di sepanjang pesisir yang tidak dilalui angin monsun. Belakangan ini, selain membuat kapal ikan dan kargo bermotor, kemahiran para pembuat perahu di Ara juga semakin diminati para pelaut yang menganggap bahwa kapal romantis dan indah yang mengingatkan akan eksplorasi pada zaman dahulu—ini adalah kapal sempurna untuk wisata mewah berkeliling pulau atau disewakan kepada para penyelam yang ingin tinggal di kapal. Bahkan, kapal pinisi kayu ulin sepanjang 20 meter kini bisa dibuat sesuai pesanan dengan harga sekitar 100.000 USD (sekitar Rp1,3 miliar), dan lama pembuatan sekitar satu tahun.

Haji Wahab adalah legenda hidup, bahkan di kalangan para pembuat kapal di Ara yang sudah terkenal ke seluruh dunia. Dia adalah salah satu tokoh penting dalam tradisi pembuatan kapal, yang bahkan sudah terbilang kuno di masa kakek buyutnya membuat pinisi untuk para pedagang dan pelaut hebat. Kami duduk di geladak kapal yang telah melambungkan nama Haji Wahab selama lebih dari 40 tahun kariernya. Saya membuat kapal pertama saya waktu saya berumur 15 tahun,” kata pakar pembuat kapal ini. “Sejak itu saya sudah membuat hampir 60 kapal. Kapal Dunia Baru ini unik—menggabungkan tradisi pembuatan kapal terbaik Konjo dengan teknologi kelautan barat paling canggih.” Kapal Dunia Baru (www.duniabaru.com) telah kembali ke pelabuhan asalnya untuk pemeliharaan dan sekarang berlabuh di luar kawasan terumbu karang Ara. Disebut-sebut sebagai kapal layar tradisional paling mewah di Indonesia, kapal ini seolah menjadi kulminasi dalam tradisi pembuatan kapal oleh masyarakat Konjo yang telah berumur ratusan tahun (dengan sistem keamanan, keselamatan dan navigasinya menggunakan teknologi barat mutakhir). Haji Wahab menghabiskan tujuh tahun membuat Dunia Baru, tidak hanya di Ara tetapi juga di Kalimantan (agar mudah mendapatkan kayu-kayu besar yang diperlukan), Surabaya, dan Bali, tempat proyek ini diselesaikan. Keponakannya, Jamal, menjadi salah satu dari 18 awak kapal Dunia Baru. Dan seperti nenek moyangnya, dia telah berlayar ke seantero Indonesia.

Garuda May2015 HR_Page_128_Image_0001Kini, daerah di ujung selatan Sulawesi ini makin ramai dikunjungi wisatawan petualang dan mereka yang ingin melihat sisi lain yang belum banyak dijelajahi dan lebih abadi di Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia. Banyak yang datang ke sini untuk menyelam atau snorkelling di antara terumbu karang berkilauan di Pulau Liukang dan Pulau Kambing. Tempat ini merupakan lokasi menyelam kelas dunia— di mana Anda bisa melihat barakuda, pari manta, lumba-lumba dan hiu (harimau, martil dan kadang-kadang hiu paus)—tetapi banyak juga pengunjung yang tidak terlalu tertarik dengan atraksi ini. Di Apparalang, gulungan ombak besar yang tak henti menghantam meninggalkan bekasnya pada dinding tebing, sementara di Lemo Lemo yang tenang, riak kecil ombak menyapu putihnya pasir pantai yang merupakan pemandangan indah tersendiri. Pengunjung yang meluangkan waktu untuk bereksplorasi pasti akan jatuh cinta melihat kehidupan komunitas pembuat kapal di Ara dan Tana Beru serta masyarakat nelayan di Panrang Luhu, pelabuhan kecil yang ramai di Tanjung Bira.Melihat tempat ini—salah satu daerah paling menarik dan menyenangkan di Indonesia—rasanya sulit dimengerti mengapa para pelaut Konjo dahulu sampai meninggalkan pulau surgawi ini.



5 Senses



Garuda May2015 HR_Page_126_Image_0001

1. CLIFF WALK

Tebing karang terjal banyak terdapat di pesisir pantai. Di Apparalang, Anda dapat menikmati panorama indah di sepanjang pantai. Ada anak tangga dari kayu yang curam menanjak hingga ke sebuah panggung di atas tebing karang yang menyajikan panorama indah nan dramatis, dinding-dinding tebing, dan gua-gua misterius yang merupakan bagian dari kontur kawasan ini. Sementara desa di daratan memiliki gua air tawar yang dalam untuk digunakan sebagai tempat mandi dan cuci oleh masyarakat selama ratusan tahun. Menurut legenda, gua-gua ini terhubung dengan gua-gua bawah tanah yang belum pernah dieksplorasi, yang merupakan satu dari sekian banyak misteri di Tanjung Bira.


2. DIVING TAGaruda May2015 HR_Page_127_Image_0004NJUNG BIRA

Menyelamlah selama Anda di sini! Tanjung Bira mulai dikenal sebagai salah satu daerah paling indah dan bersih di Indonesia untuk wisata menyelam. Amatoa Resort dapat mengatur perjalanan menyelam (dengan sertifikasi PADI Open Water) ke tempat-tempat yang memiliki nama unik seperti Shark Point, Stingray Bay, Pulau Kambing dan Pasar Ikan. Perairan yang jernih dan merupakan bagian dari
Segitiga Terumbu Karang ini adalah habitat yang luar biasa indah dan memiliki populasi hiu dan pari dalam jumlah besar.


Garuda May2015 HR_Page_129_Image_00023. GOAT ISLAND

Ada banyak rumor di Pulau Kambing. Sebagian penduduk akan bercerita kepada Anda bahwa di pulau ini tidak ada kambing sama sekali, malah ada yang mengatakan kalau semua kambing sudah dimakan oleh ular besar yang menghuni pulau. Tidak banyak orang yang menjelajahi pulau ini karena lokasi terumbu karangnya yang curam, dan hanya ada beberapa titik di mana Anda bisa turun dari perahu menuju daratan. Dengan eksplorasi singkat saja kita bisa melihat banyak jejak kambing di sana, dan tidak ada ular raksasa seperti yang diceritakan penduduk.


Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *