Sunda, Words and photography by Will Meyrick

fWill Meyrick

With Scottish heritage, an Australian accent and an Indonesian home, the ‘street food chef’ Will Meyrick isn’t easily categorised. With three buzzing restaurants under his belt – Sarong and Mama San in Bali, and E&O in Jakarta – and a lust for culinary travel that keeps him on the road much of the time, what you have is one busy gastro-maestro. Will’s favourite go-to dish at home? Indo Mie.g

Pemandangan dari ruang santai di Hotel Trans Luxury ini sangatlah mengagumkan. Di depan saya, tampak pemandangan Kota Bandung. Saya senang dapat kembali ke Kota Bandung, pusat keramaian di Jawa Barat. Fasilitas hotel yang nyaman ikut mengawali penjelajahan saya di daerah pegunungan ini. Bandung selalu menjadi tempat yang spesial untuk saya. Istri saya berasal dari Bandung, sehingga anak-anak saya pun turut mewarisi tradisi dan budaya Sunda. Tumbuh di antara keluarga Skotlandia-Sunda, anak-anak kami bisa dibilang memiliki karakter budaya yang cukup unik.

Bandung is often referred to as the Paris of Java, but it’s also a foodie capital that offers some of the best gastronomic gems in the area..

nJajanan kaki lima sudah menunggu untuk didatangi, tetapi karena kami masih kelelahan maka untuk malam ini kami menikmati hidangan hotel. Tak sabar rasanya ingin mengetahui kuliner khas Sunda yang ditawarkan kota ini

Makanan yang seketika habis dilahap, termasuk oleh anak-anak, adalah gepuk daging; daging sapi yang direndam dalam santan berbumbu serai, asam, gula dan bumbu lainnya sebelum kemudian dipukul-pukul hingga tipis, lalu digoreng kering. Pilihan saya adalah pepes peda; ikan asin dengan potongan bawang daun, bawang merah, jahe dan cabai giling yang dibungkus daun pisang – sangat ringan dan lebih sehat, tapi masih menyimpan rasa yang luar biasa. Saya pun salut dengan tim dapur yang melakukan pekerjaan mereka dengan sempurna!

Bandung selalu disebut sebagai Parisnya Pulau Jawa, tapi kota ini juga dianggap sebagai pusat kuliner yang menawarkan banyak pilihan makanan lezat. Matahari bersinar cerah dan kami sudah bersiap untuk pergi ke pasar yang tersebar di sekitar Jalan Otto Iskandar Dinata, tempat yang tepat untuk melihat keanekaragaman makanan yang membuat area ini begitu hidup.

For me, Sunda ticks all the boxes. I’m always happy to return, knowing that I’ll keep discovering new stories and new flavours. This is the kind of place you’ll want to visit with an open heart and a hearty appetite.

 Makanan khas Sunda memakai banyak bahan-bahan segar, seperti sayur-sayuran, bumbu yang menyehatkan, ikan asin, makanan laut, sambal mentah, dan makanan yang difermentasikan. Daging dan ikan yang dipotong-potong dibungkus dengan daun pisang (pepes) kemudian dikukus; tidak memakai minyak, digoreng atau membutuhkan banyak saus.

Fokus makanan khas Sunda adalah mengonsumsi apa yang ditemukan di lingkungan sekitar, hampir seperti cara diet Paleo. Bagi masyarakat Sunda cara ini telah dilakukan jauh sebelum bangsa Barat melirik metode yang saat ini tengah digemari.

oBeberapa jenis makanan tradisional Sunda juga mendapatkan sedikit pengaruh dari China. Mie Kocok, semangkuk mie kuah rebus adalah contoh perpaduan budaya kuliner ini. Mie telur hasil buatan tangan ini sangat kenyal dan padat, dicampur dengan kulit sapi, dan kadangkadang kaki sapi (walaupun Anda bisa memesan mie kocok tanpa kaki sapi). Segenggam kecambah segar dan seledri ditambahkan untuk melengkapi rasanya yang luar biasa lezat.

Walaupun berlokasi di pasar, Mie Kocok Pak Eman Putra (Jalan Trs Buah Batu No. 119) terkenal sebagai tempat yang menyajikan mie kocok paling enak di daerah ini, jadi jangan sungkan dan bergabunglah bersama penduduk lokal untuk menikmati hidangan yang disajikan dalam mangkuk China oleh pelayan yang murah senyum.

Menu olahan dari singkong telah menjadi salah satu tujuan kuliner yang terkenal di Bandung. Kafe-kafe di Jalan Braga adalah tempatnya jika Anda ingin menikmati colenak, makanan yang terbuat dari singkong yang telah dikupas lalu ditumis dengan mentega, sehingga memiliki kombinasi rasa manis dan asam yang seimbang. Versi klasiknya adalah menggunakan gula kelapa. Saya menghadirkan versi mewahnya dalam menu makanan penutup di restoran saya di Jakarta, E&O, untuk menunjukkan bahwa saya adalah penggemar makanan ini. Selain itu, makanan ini juga bagian dari kisah cinta saya dengan istri, dan cinta saya dengan Indonesia,yang hadir bersama dengannya, karena inilah makanan Sunda pertama yang dikenalkan istri saya.

Makan malam kali ini kami menuju daerah perbukitan tepatnya di Kuliner Punclut Ciumbuleuit (Jalan Bukit Raya Atas). Terletak di jalan yang berkelok, rumah makan ini menyajikan masakan rumahan khas Sunda yang otentik.

iDi sana kami mencicipi ikan jambal roti, ikan asin yang rasanya lezat dan segar. Oncom, makanan yang mirip tempe namun dibuat dari kacang, bukan kedelai, adalah makanan yang populer di daerah ini. Saya melihat pepes oncom tertulis di menu; oncomnya dipanggang di atas arang kemudian dibumbui dan dibungkus daun pisang untuk kemudian dipanggang lagi. Kelezatan yang matang dua kali.

Tujuan selanjutnya: Garut. Kami melewati jalan yang berliku-liku di pegunungan, melalui lembah dan sawah yang bertingkat-tingkat. Kami di sini untuk menonton adu domba, sebuah pertunjukan yang unik dimana domba jantan lokal saling beradu untuk membuktikan kepala siapa yang paling keras – konsep yang secara natural menarik untuk para chef yang suka tantangan.

Domba jantan yang penuh hiasan ini berjalan dengan gagahnya layaknya petarung berkaki empat, dan saling menabrakkan kepala selama beberapa menit. Wajah pemiliknya yang sebagian besar adalah petani di desa tersebut terlihat sangat bangga. Orang-orang bersorak bergembira, anak-anak kecil menari-nari di sepanjang jalan dan kambing jantan yang menang diarak menuju kandangnya. Benar-benar sebuah perhelatan yang mengesankan.

qSetelah melewatkan pagi menonton adu domba, saya pun bersiap untuk makan siang. Rumah Makan Sarasa (Jalan Cihuni, Desa Kadongora) menawarkan ikan cobek khas Sunda yang paling enak. Gurami, jenis ikan sungai lokal, dibelah kemudian digoreng hingga keemasan. Disiram dengan kecap manis yang pekat dan dihadirkan dengan pedasnya sambal hijau, adonan cabai hijau tradisional Indonesia; renyah, manis dan sekaligus super pedas.

Bagi saya, Jawa Barat memiliki semuanya. Saya selalu ingin kembali untuk terus menemukan cerita dan rasa baru. Sebuah tempat yang tepat untuk dikunjungi bagi Anda yang memiliki hati yang terbuka dan selera makan yang besar.

 Fresh ingredients is the key to Sundanese cooking. Nasi Kencur (Sundanese fried rice) with sambal terasi and lalapan (fresh uncooked greens). Mie Kocok: Bandung traditional egg noodle in clear beef broth with a hint of Asian celery. Combro, grated casava fried and filled with fermented soy beansFresh


Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *