Sumba


Empat kuda berlari kencang menjejak pasir Pantai Nihiwatu, meninggalkan debu yang berterbangan seiring para joki yang memacu kuda menuju garis finis berhias bunga fuschia, boegenvil dan daun kelapa.

193
For young children, horses are a way of life on Sumba.

Pacuan kuda tersebut adalah salah satu acara yang digelar agar para tamu resor Nihiwatu dapat merasakan suasana budaya Sumba, pulau yang jarang penduduknya dan dapat dicapai hanya satu jam perjalanan udara dari Bali. Sebagian masyarakat Sumba masih memeluk kepercayaan animisme yang berbudaya megalitikum. Banyak kuburan batu yang besar dibangun berdampingan dengan rumah adat yang berhiaskan tanduk kerbau. Kuda, dibawa pertama kali oleh para pedagang rempah-rempah beberapa abad lalu, kini merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba, “Anak-anak sudah menunggang kuda sejak mereka bisa berjalan,” ujar Dato Daku, tukang kuda berusia 41 tahun yang juga karyawan Nihiwatu. “Dalam upacara adat yang disebut Pasola, penunggang kuda, dengan bersenjatakan lembing, melakukan atraksi seperti dalam peperangan; jika meninggal dunia, laki-laki akan dikuburkan berdampingan dengan kuda kesayangannya,” tambahnya.

 

194
Horseman Dato Daku looks out over the beach of Nihiwatu.

“Di Sumba, kuda memang masih dibutuhkan,” papar Dato, ayah enam anak yang juga peserta Pasola sejak umur 15 tahun. “Kami membutuhkan kuda untuk membantu membawa hasil panen ke desa, seperti padi, jagung atau tapioka.” Dato ternyata pernah kehilangan sebuah giginya dan menderita luka-luka, dikarenakan tinju Sumba, sebuah olahraga yang sama bahayanya dengan Pasola. Walaupun kini Dato sudah tidak melakukan tinju lagi, untuk upacara adat Pasola, Dato masih tetap menunggang kuda, walaupun di barisan belakang. “Sebenarnya saya agak ngeri bila lembing itu mengenai saya. Dari jarak 50m, lembing mereka bisa mengenai orang. Tapi walau demikian, saya tetap tertantang untuk ikut serta dalam acara itu.”  Tamu-tamu hotel pun menonton acara pacuan kuda di Nihiwatu sambil menikmati minuman mint juleps. Sambil memakai topi yang berhiaskan bunga, para tamu juga bertaruh untuk kuda yang berlaga. Hasil taruhan tersebut nantinya akan diberikan kepada Sumba Foundation, yayasan yang didirikan oleh pemilik Nihiwatu berkebangsaan Amerika, Claude Graves.

Graves berkemah di Pantai Nihiwatu hingga sepuluh
tahun lamanya untuk meyakinkan penduduk lokal agar
mau menjual sebidang tanah kepadanya.

195
Though there’s lots to do at Nihiwatu, staying in to enjoy the surrounds is tempting as well.

Graves berkemah di Pantai Nihiwatu hingga sepuluh tahun lamanya untuk meyakinkan penduduk lokal agar mau menjual sebidang tanah kepadanya. Resor yang dibangunnya menyediakan fasilitas eksklusif bergaya tradisional dengan sentuhan modern;  atap alangalang, kolam rendam pribadi, serta furnitur kayu dengan aksen dari bahan kelapa. Terdapat juga tempat untuk berselancar dengan taraf internasional yang dapat mengakomodir 10 peselancar, serta para staf yang siap melayani permintaan tamu-tamu resor. Resor ini juga bekerja sama dengan sebuah yayasan yang didirikan di tahun 2001 yang memiliki misi meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Sumba. Sejak didirikan, yayasan ini telah membangun sistem air bersih, pemeriksaan malaria dan pengobatan untuk lebih dari 20.000 penduduk. Saya pun menengok proyek sistem air bersih yang dibangun. Dari resor ke lokasi tersebut membutuhkan waktu  sekitar satu jam yang hanya bisa dicapai dengan kendaraan 4WD karena jalannya yang rusak. Dengan menghabiskan $14.000 donasi dari para donor, 800 kepala keluarga kini sudah dapat menikmati air bersih. Di depan salah satu rumah, Paulina Podolobo tampak sedang menggendong anaknya yang masih berumur tujuh bulan, sementara anak kembarnya yang berumur empat tahun bermain-main di dekatnya.

Dua buah keran air yang mengeluarkan air bersih berada beberapa meter; sebelum  dua keran air tersebut dipasang, Pauline harus berjalan sejauh dua kilometer hanya untuk mencapai sumber air terdekat, dua kali dalam sehari. “Sekarang, semuanya terasa lebih mudah di sini,” ucap wanita berusia 26 tahun ini sambil tersenyum. Dia juga menambahkan waktu dua jam yang dulu dihabiskannya untuk mengambil air kini dapat dia manfaatkan untuk bekerja di dapur guna menambah pemasukan keluarga. Kini hampir tiga perempat tamu yang datang ke Nihiwatu adalah pelanggan tetap. Salah satunya peselancar yang juga insinyur Peter Gemell; bersama istrinya Annie, sudah enam tahun ini, mereka sering menginap di resor tersebut. Mereka ikut serta dalam pelatihan perawat serta pembelian mikroskop untuk mendeteksi malaria. Saat ini, Peter sedang mengerjakan proyek air bersih, salah satunya adalah yang saya datangi ini.

198
Tradition is closely adhered to on Sumba today.

“Saya rasa perbedaan yang menyolok (antara resor dan kehidupan rakyat di tempat lain di Sumba) menggugah orang untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu,” katanya. “Semakin sering Anda datang kemari, semakin terasa kuatnya ikatan itu. Anda ingin terlibat karena Anda bisa melihat manfaatnya bagi lingkungan.” Proyek air bersih yang terbaru ini hanya menyambungkan pipa air bersih yang dibuat pemerintah beberapa tahun lalu ke sumber air. “Solusinya sudah jelas,” katanya. “Bila masalah kebersihan, kesehatan dan pendidikan sudah dibenahi maka diharapkan secara bertahap generasi selanjutnya akan lebih baik,” jelas Peter seraya berharap apa yang dilakukan oleh Nihiwatu ini diikuti pula oleh pengembang lainnya yang berinvestasi di Sumba. “Begitu tenang. Begitu alami,” komentar seorang pengusaha hotel berpengalaman sekaligus managing partner di Nihiwatu, James McBride, tentang suasana resor ini.

Pagi-pagi sekali kami sudah berjalan kaki menuju Pantai Rua, yang jaraknya tujuh kilometer dari Nihiwatu, melewati
desa-desa yang tenang dengan pemandangan yang indah. Berbekal bantuan dana dari Chris Burch, seorang pengusaha ritel asal Amerika, James ingin Nihiwatu lebih berkembang, menarik tamu tak hanya dari kalangan peselancar saja. Kami berhenti sejenak untuk istirahat di sebuah rumah di mana seorang pria tanpa alas kaki  memetikkan kelapa untuk kami. Setelah menikmati air kelapa, kami pun melanjutkan perjalanan. Seorang anak
laki-laki yang tengah menunggang kuda tampak di depan kami; lalu di tikungan berikutnya, sekawanan kerbau melewati kami. Lalu, Pantai Rua yang menakjubkan pun mulai terlihat.

197
Carve up one of the best surf breaks in the world at Nihiwatu, with the number of surfers capped at 10.

Apakah kita sedang melihat Bali kedua? “Rasanya jawaban yang paling pantas adalah, semoga tidak,” kata James. Dia menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan yang terlalu cepat membuat pulau tak begitu nyaman untuk ditinggali. “Saya dan Chris ingin melindungi Sumba, mengembangkannya sebisa kami. Pastinya kami ingin Sumba sama menariknya di mata dunia internasional seperti Bali, hanya saja tak terlalu drastis.” Lalu kira-kira apa yang menarik dari Sumba? “Sumba itu bak Afrika-nya Asia… Banyak yang menarik. Lautnya, pantainya yang berkarang, penduduknya, rumah adatnya yang menarik serta binatang-binatang peliharaanya. Mungkin juga buah pinang dan kekerasan alamnya.”

James juga memiliki keinginan untuk mengenalkan olahraga polo pada penduduk Sumba. Selain untuk membuktikan ketangguhan para penunggang kuda tersebut di luar upacara Pasola, juga untuk menghibur para tamu resor.  “Permainan polo di Pantai Nihiwatu atau di area Pasola merupakan hal yang menarik untuk ditonton,” ujarnya.  “Semoga olahraga ini bisa dimasukkan ke dalam program yayasan,” tambahnya. Setelah bersepeda menyusuri bukit, saya pun kembali ke resor dan tak sengaja bertemu Dato, si tukang kuda. Saat saya turun dari sepeda, Dato menatap sepeda saya dengan ekspresi sedikit muram. Sambil menggelengkan  kepalanya, dia berkata, “Jadi Anda habis naik itu? Saya sudah belajar naik sepeda, ternyata tidak gampang. Masih lebih mudah naik kuda.”

5 Senses – Scent
SEAFOOD

Cicipi hidangan yang disuguhkan di restoran milik Nihiwatu yang berada di pantai. Atau Anda dapat bersantap mesra dalam rumah pohon di Pantai Nihioka, grill dibuat di dahan pohon sementara untuk minuman, didinginkan tak jauh dari situ. Diiringi hembusan angin laut yang menyegarkan, Anda akan langsung merasa rileks.

5 Senses – Sound
NATURE

Di Sumba, Anda tak bisa jauh dari kehidupan aneka fauna. Dengarkan suara derap kaki kuda di Pantai Nihiwatu saat para joki memacu kuda-kuda mereka menuju garis finis. Anda juga bisa mendengar suara kicau burung saat berjalan di pagi hari, suara ayam jantan dan suara kambing di desa. Suara kaki kerbau di atas jalanan beraspal akan terdengar sebelum Anda mencapai tikungan dan bertemu langsung dengan kawanan  hewan berkaki empat yang sedang menyeberang jalan itu.

5 Senses – Taste
COCONUT

Sekali Anda mencoba satu kelapa muda, berarti Anda sudah mencoba semua jenis kelapa muda bukan? Tetapi di Nihiwatu, Anda bisa menghadiri acara coconut tasting, di sana Anda berkesempatan menikmati lima jenis kelapa yang tumbuh di daerah yang berbeda. Anda bisa merasakan kadar manis yang berbeda di antara kelapa yang tumbuh dekat laut dan faktor lainnya. Setelah Anda memilih rasa kelapa yang disukai, Anda bisa meminum kelapa selama Anda menginap di resor tersebut.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *