Osaka


Osaka adalah sebuah kota masa depan. Di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan yang ramai, tersembunyi sejarah yang mengukir masa depan Osaka.

150Bak hamparan sutera yang lembut, senja perlahan menyelimuti Osaka. Sinar jingga tampak menerangi gedung-gedung pencakar langit dan jalan-jalan kecil yang berada di kaki gedung. Dari Floating Garden Observatory sebuah tempat observasi (viewing deck) yang berada di Umeda Sky Building para pengunjung dapat memandangi keindahan cakrawala yang berubah warna dari jingga ke biru seiring menyalanya lampu-lampu di penjuru kota. Dari tempat ini, Osaka tampak layaknya kota abad ke-21; pusat berbelanjaan yang benderang dan megah, jalan-jalan layang dan rel kereta meliuk di penjuru kota yang dari kejauhan tampak seperti hamparan mie yang tumpah. Beberapa bulan ke depan pemandangan di Osaka akan menjadi lebih fantastis lagi. Saat ini Rinku Gate Tower (setinggi 256m dan merupakan gedung tertinggi kedua setelah Landmark Tower di Yokohama) adalah gedung termegah di Osaka. Namun keberadaannya tak lama lagi akan tersaingi oleh Abeno Harukas building, dengan elevator-nya yang dapat mengantar penumpang hingga ke puncak gedung dengan tinggi 300m ini. Walaupun telah selesai dibangun, gedung ini masih dalam proses penyempurnaan akhir. Setelah diresmikan pada Maret 2014 nanti, Abeno Harukas akan menjadi gedung tertinggi di Jepang. Dari lantai 60 tempat observasi, para pengunjung dapat melihat kesibukan di Tennoji district. Jalanjalan rayanya yang ramai berada di atas subway dan gedung-gedung baru di sekelilingnya.

151
Keitaku-en – a traditional rinsen-style garden – in Tennoji Park.

Sementara itu, hanya 1 kilometer ke utara, terdapat Kuil Shitennoji (Pusat agama Buddha yang pertama di Jepang) yang banyak diziarahi pengunjung sejak awal didirikannya pada abad ke-6. Banyak festival diadakan di sini, salah satunya adalah Doya-doya yang diadakan pada bulan Januari. Di festival itu sekelompok pria berpakaian khas festival akan berusaha memperebutkan jimat dewa keberuntungan berbentuk sapi. Di antara kuil dan gedung, terdapat Tennoji Park. Di tempat ini pengunjung bisa menemukan kebun binatang, Museum of Fine Arts dan Keitakuen, sebuah area rindang di sekitar Kuil Shitennoji. Taman berumur 100 tahun ini memiliki jalan setapak di samping danau dengan lanskap mini yang menakjubkan. Ahli taman terkemuka Ueji membutuhkan waktu sembilan tahun untuk menyelesaikan pembangunan taman ini, tetapi keluarga kaya Sumitomo, yang mendanainya, menikmati taman ini hanya empat tahun sebelum kemudian menghibahkannya kepada pemerintah kota di tahun 1921. Kesuksesan keluarga Sumitomo dalam dunia bisnis berlangsung hingga turun temurun. Di akhir abad ke-17, pengusaha ini memindahkan bisnisnya dari Kyoto ke Osaka, di mana bisnis peleburan tembaga mereka berkembang pesat hingga mencakup bidang tambang, sutera dan perbankan. Kisah sukses seperti keluarga Sumitomo ini biasa ditemui di Osaka: kota ini merupakan pusat bisnis dan rumah bagi pebisnis besar selama bertahun-tahun. Walau cukup makmur, Osaka dan penduduknya dipandang rendah oleh golongan yang lebih tinggi di Tokyo (yang dulu dikenal dengan nama Edo).

Dialek penduduk lokalnya pun dianggap kurang berkelas, sementara masyarakatnya agak kurang sabar. Namun
Jepang tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa Osaka merupakan pusat industri makanan, dan logistik negara diatur oleh tiga pasar paling berpengaruh di Osaka, di mana ikan, sayuran dan beras impor diperdagangkan. Akhirnya, Osaka dikenal sebagai ‘lumbung’ negara…yang penduduknya pun dikenal gemar makan. Kecintaan akan makanan (selain keahlian berinovasi) terbukti dengan penemuan mie instan dan sabuk berjalan untuk sushi yang berasal dari kota ini. Terdapat beragam pasar di kota ini: mulai dari pasar grosir utama tempat para chef berbelanja untuk restoran mereka (Osaka memiliki 137 restoran berbintang Michelin) hingga pasar-pasar biasa tempat penduduk kota ini berbelanja dan, mungkin juga, berbagi gosip terbaru. Osaka bergairah karena makanannya, tetapi sesungguhnya yang membuat kota ini berkembang adalah semangat bisnisnya.

Osaka bergairah karena makanannya,
tetapi sesungguhnya yang membuat kota
ini berkembang adalah semangat bisnisnya.

153
Dotonbori Street is as busy at dawn as it is at dusk.

Pusat bisnis Osaka berada di, dan dekat Namba dengan daerah-daerah di sekitarnya yang padat dengan berbagai jenis usaha. Dotonbori sudah cukup lama menjadi pusat hiburan dan juga tempat makanan dan pertokoan, bar serta club. Sementara Shinsaibashi (tak jauh dari Dotonbori Canal) dipenuhi dengan shopping arcade yang berisi deretan tokotoko besar. Daerah Amerika-mura di dekatnya tampak lebih santai tempat ini merupakan pusatnya toko-toko vintage, tempat para desainer muda berbakat menjual karyanya dan juga kafe-kafe unik. Para penjaga toko di Osaka biasa menyapa para tamu mereka dengan ucapan Maido ōkini! yang artinya, “Terima kasih sudah datang!” Di kota yang tak jauh dari usaha ini, tak mengherankan bila bahasa yang biasa dipakai di pasar menjadi bahasa obrolan sehari-hari. Sebagian penduduk Osaka biasa menyapa dengan ucapan Mōkari-makka? Yang bila diterjemahkan menjadi, “Dapat untung banyak?” dan biasanya dijawab dengan Bochi-bochi! atau “Lumayan!” Sepertinya dialek Osakaben ini diam-diam mulai banyak digunakan. Walaupun cukup dikenal, dialek ini dianggap terlalu lugas. Namun bagi sebagian orang Jepang lainnya, dialek tersebut hanya pantas digunakan oleh komedian tunggal dan penjahat dalam film kartun. Yang menarik, jika pembuat film menyulih suarakan film mereka ke dalam bahasa Inggris, maka bahasa Inggris yang dipakai warga Osaka malah terdengar seperti dialek kelas pekerja di Inggris atau Koboi asal Texas.

Ucapan lain yang sering terdengar adalah Kuida-ore! Bila diartikan secara harafiah adalah “Makan sampai kantong
kering!” dan itulah hal yang dapat dialami penduduk lokal maupun wisatawan di kota yang penuh dengan kuliner
lezat ini. Kunjungi Dotonbori selepas senja maka Anda akan melihat satu-satunya daerah yang berisi aneka ragam
jajanan. Di sini tampak lampu-lampu papan nama yang berkelip. Jalanannya pun dipenuhi dengan gerobak penjual makanan yang menjajakan penganan favorit penduduk Osaka seperti takoyaki. Para pembeli juga rela mengantre demi mendapatkan okonomiyaki atau ramen daging. Di sebuah pojok di Dotonbori, terdapat jalanan berkonblok tak jauh dari kuil Buddha Hozen-ji dengan patung Fudō-myōō yang berlumut karena siraman air setiap harinya dari para peziarah terdapat kafe-kafe dan bar yang mengingatkan pengunjung akan suasana Osaka zaman dahulu.

161
Traditional Osakan skewered snacks at Kushinobo restaurant.

Di Kushinobo, seperti juga tempat-tempat di sekitarnya, restoran yang ada menawarkan beragam jenis kushikatsu daging, seafood, atau sayuran dengan bumbu panko ditusuk bambu, yang kemudian digoreng dan disantap bersama saus. Penganan ringan ala Osaka ini merupakan hidangan wajib di sore hari, apapun suasananya. Penduduk lokal
pun duduk di konter untuk memesan menu tambahan seraya berbincang dan bercanda. Tampak sekelompok pegawai kantor melepaskan penat, pasangan muda yang sedang bercengkerama, dan para pebisnis yang sedang membahas usaha mereka… Kushikatsu memang selalu terasa lezat dalam segala kesempatan. Yang lain pasti sepakat, bila kushikatsu sungguh Meccha umai! Sangat menggoyang lidah!

 

5 Senses – Sight
SUMIYOSHI TAISHA

156Didirikan pada abad ke-4, Kuil Sumiyoshi untuk agama Shinto (2-9-89 Sumiyoshi, Sumiyoshi-ku; buka setiap hari dari pukul 06.00 hingga 17.00) merupakan salah satu tempat ibadah paling bergengsi. Ruang utamanya atau honden merupakan Warisan Nasional yang tertua, dan sangat berbeda (sangat bergaya Jepang) dengan seluruh arsitektur bangunannya diberi nama sama seperti sumiyoshi-zukuri. Yang menarik adalah jembatan Soribashi yang secara simbolis melewati ‘sungai’ buatan di depan kuil seperti pelangi yang melintas dari bumi ke langit.

 

5 Senses – Touch
MUSEUM OF HOUSING AND LIVING

157Untuk mengenang Osaka di tahun 1830-an, Anda bisa menuju Museum of Housing and Living dengan jalan raya dan jalan kecil berisi machiya wooden townhouses, toko-toko, balai kota dan rumah mandi sentō. Sebuah museum di mana pengunjung dapat merasakan sendiri suasana kehidupan kota pada akhir masa pemerintahan Edo.

 

5 Senses – Sight

4K3D

158Banyak wahana terkini yang memicu adrenalin di Universal Studios Jepang, tepatnya di Osaka, tak jauh dari Hanshin Highway di Hotkou Junction. Amazing Adventures of Spider-Man. The Ride 4K3D, yang baru saja beroperasi awal tahun ini, mengadopsi teknologi imaji canggih: layar 3D yang melingkupi wahana dan gambar Ultra High Definition yang dipadukan dengan lebih dari 100 live special effects, seperti cahaya, api, asap dan cipratan air, membuat pengunjung merasakan seperti benar-benar sedang bertualang.

 

5 Senses – Sound
THE OSAKA DIALECT

159Di kedai kopi Anda memang bisa membuat barista menoleh dengan kata, “Excuse me!” Namun dalam dialek Osaka-ben, Anda bisa menggantinya dengan kata, Anaa! sebelum memesan kopi atau kōrukōhī. Lalu untuk menanyakan harga, Anda hanya cukup menunjuk ke cangkir Anda dan bertanya, Kore nambo? Setelah membayar, Anda bisa berterima kasih dengan mengucapkan kata ōkini. Penduduk Osaka memang sering mempermanis ucapan mereka dengan menambahkan kata ōkini, agar terdengar lebih sopan.

 

5 Senses – Taste
ART IN A BOX

160Osaka memiliki partisipasi yang besar terhadap budaya sushi, tak hanya sekedar menemukan sabuk berjalan untuk kafe sushi. Seperti halnya gaya mushi-zushi dan bo-zushi, oshi-zushi adalah sushi lokal yang menggunakan nasi
dengan cuka manis dan disajikan bersama bahan matang. Didirikan ada pertengahan abad ke-19, Yoshino Zushi membuat hako-zushi di mana sushi dicetak dalam kotak kayu lalu ditata seperti mozaik.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *