Manado Photography by Suzanty Sitorus

FEEDING THE NATION Manado Photography by Suzanty Sitorus

Hari sudah gelap saat kami tiba di Manado. Dalam perjalanan selama 40 menit ke hotel, kami melewati jalanan berliku yang sepi, dengan pepohonan di kanan kiri jalan serta menyaksikan kehidupan khas pedesaan di Indonesia saat malam tiba; para pria duduk-duduk di warung sambil minum kopi dan mengisap rokok. 

17 18Kami menuju Grand Luley Resort and Dive yang berada di Tongkaina, hotel terdekat dengan tempat menyelam yang cukup populer di Indonesia, Taman Nasional Bunaken, yang berlokasi di pusat Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), Kepulauan Bunaken. Saya terbangun pagi-pagi sekali dengan ramainya suara kicau burung. Dari jendela kamar, saya dapat melihat hamparan nyiur serta gunung berapi di kejauhan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Untuk saya, pohon kelapa itu istimewa; bentuknya anggun dan menenangkan, daunnya yang melambai dan batangnya yang kurus lengkung tampak begitu indah dan elegan. Begitu juga dengan gunung berapi yang menjadi latar belakangnya, menakjubkan. Grand Luley Resort and Dive ini berdiri di atas lahan seluas 7 hektar dengan dermaga dan pantai pribadi serta hutan bakau yang mengelilinginya. Saya pun berjalan menyusuri dermaga sambil menghirup segarnya udara Sulawesi Utara dan menatap lautnya yang berwarna biru toska. Ini baru namanya liburan!

Tapi masalahnya siapa yang sedang berlibur? Saya khusus datang ke tempat ini untuk mencicipi masakan khas Minahasa, dan itu dimulai dengan menu sarapan. Saya memilih menu Bubur Tinotuan,bubur khas Manado, yang terdiri dari labu, jagung, bayam dan nasi. Lembut, bergizi dan mudah dicerna. Saya suka sekali dengan bubur Manado ini, terutama dengan labunya. Makanan khas Manado ini sepertinya memiliki sensasi yang luar biasa bagi lidah saya. Setelah berkeliling pulau dengan kapal, mengamati terumbu karang dan kehidupan bawah laut dari lantai kaca kapal, saya pun kembali ke hotel untuk makan siang. Siang ini, saya sungguh menikmati menu woku cumi-cumi; cumi-cumi empuk dengan bumbu woku yang terdiri darikunyit, jahe, serai dan tomat. Menu ini mirip dengan hidangan ikan yang pernah saya makan di Bali, sedikit manis dan asam dengan bumbu yang melengkapi rasa ikannya. Sebagai sajian pelengkap, sup ikan khas Manado juga turut dihidangkan bersama woku cumi-cumi, yaitu mujair putih yang disiram kuah tomat, serai, kemangi dan sedikit jeruk nipis. Semuanya disajikan lengkap bersama sambal roa, yaitu sambal cabai yang dimasak bersama ikan roa. Klaper tart, yaitu custard tart dengan daging kelapa yang dikukus yang tak lupa dihadirkan untuk menutup hidangan.I’m here to sample the food of the Minahasa, starting with breakfast. I choose bubur tinotuan, Manado-style rice porridge, a luscious mix of pumpkin, corn, green amaranth and rice.

Tiba kemudian saat untuk melanjutkan perjalanan,kami pun menuju daerah perbukitan, melewati
patung Yesus yang besar yang dinamakan Yesus Memberkati, dan Taman Eden. Manado merupakan kota luar biasa yang berhiaskan gunung berapi, beragam tanaman, ladang jagung, sawah, ladang tebu dan danau. Kami berhenti di Gardenia Country Inn di daratan tinggi Tomohon, Sulawesi Utara. Sebuah daerah menakjubkan penuh bunga yang bisa membuat iri Monet sang maestro seni. Selain ruang kamarnya yang nyaman, guesthouse ini memiliki restoran bergaya ukiran kayu khas Jawa dengan atmosfir yang menakjubkan dan kolam dengantanaman lili. Kami memesan kacang merah dan daging sapi dengan lalapan. Sangat pas dengan udara dingin pegunungan.

15 16Makan siang di Danau Tondano mungkin yang paling menyenangkan dalam perjalanan ini. Menu ikan mujair bakar, tumis kangkung, bunga pepaya dengan daun pakis, perkedel jagung, sup ikan dan trio sambal seperti sambal roa dan dabu-dabu sangat membangkitkan selera, ditambah lagi dengan suasana danau yang luar biasa. Tempat untuk kudapan sore selanjutnya adalah Danau Linow, danau belerang berwarna hijau giok, dengan bau belerang yang khas. Kami pun mengudap kripik pisang dengan sambal roa, sambil menikmati suara alam yang menenangkan. Sederhana tapi menyenangkan 

 Hari Ketiga di Kota Manado

Menu sarapan kami di Pondok Indah, Kampung Kodo, pagi ini adalah nasi kuning. Rumah makan kecil ini memiliki kafe bagus berdinding kayu yang dipercantik dengan hiasan tanaman rambat dari plastik di sepanjang pinggiran kerangka atapnya. Saya duduk dekat foto-foto Soekarno sambil menikmati suasana masa lalu dari restoran kuno ini. Nasi kuning yang saya nikmati samadengan nasi kuning khas Jawa tapi bedanya, di sini disajikan bersama abon ikan, telur rebus dan kripik kentang, tanpa bawang goreng dan sambal.

Pasar tradisional adalah tujuan berikutnya, dan tempat ini bisa membuat saya senang. Saya sengaja tidak mampir di los daging, tetapi langsung menuju los ikan segar. Orang Minahasa dapat dikatakan memakan hampir semua jenis hewan yang hidup di darat maupun yang terbang. Saya pun menemukan kios makanan yang ramai di tengah-tengah para penjual sayuran. Kios makanan tersebut menjual ikan bakar yang dipanggang langsung. Kios ini juga menjual tumis bunga pepaya (yang menjadi favorit saya), gulai ikan dengan bunga lawang, terung pedas dan ayam rica-rica. Rica-rica itu sendiri berarti cabai rica pedas yang dibawa oleh orang Spanyol ke Manado. Ciri khas makanan Manado adalah pedas. Ayam goreng yang dimasak dengan sambal tomat seringkali saya sebut dengan pembersihan saluran sinus.

Bagi Anda yang ingin menikmati hidangan laut segar sepuasnya, Pantai Kalasey, yang terletak di selatan
Manado adalah tempatnya. Di sana banyak terdapat warung-warung makan tempat Anda menikmati beragam menu dari bahan laut bersama sambal dabu-dabu sambil memandangi indahnya laut dan gunung berapi. Jika Anda ingin menikmati kopi lokal, Anda dapat menuju ke Jalan Roda, atau dikenal dengan nama Jarod, yang terletak di pusat kota. Di sana Anda bisa menemukan sederetan warung kopi yang dipenuhi orang-orang dari beragam profesi. Mereka mengobrol, minum kopi dan bermain catur. Saya tak pernah melihat pemandangan seperti itu. Meja-meja berderet di gang panjang beratapkan seng, semua penuh dengan para pria yang menikmati kopi, merokok dan membuat rencana ke depan. Pastinya, di mana ada kopi, pastilah ada kudapan dan makanan. Saya terpesona dengan versi lain dari woku cumi yang berwarna hitam karena tinta yang dimilikinya dan kari terung bumbu serai yang penuh dengan kemangi segar. Suasana akrab tempat ini pun memberikan nilai tambah. Seperti yang saya selalu katakan, selain pemandangan yang indah, orang-orang Indonesia inilah yang membuat Indonesia spesial.

20Untuk penganan manis, kami mampir ke Evie Cake and Bakery di Pasar Kanaka. Di sini, saya bisa menikmati lumpia basah; spring roll isi sayuran dan kacang halus yang dibungkus bahan dari tepung dan santan, lampu-lampu; kelapa pandan, adonan lembut yang dibungkus daun pisang, nasi jahe, yaitu ketan dengan jahe, gabin fla; custard berisi kripik yang mengingatkan saya akan pencuci mulut yang biasa dibuat oleh ibu saya.

22

Bagi Anda yang ingin menikmati hidangan laut segar sepuasnya, Pantai Kalasey, yang terletak di selatan
Manado adalah tempatnya. Di sana banyak terdapat warung-warung makan tempat Anda menikmati beragam menu dari bahan laut bersama sambal dabu-dabu sambil memandangi indahnya laut dan gunung berapi. Jika Anda ingin menikmati kopi lokal, Anda dapat menuju ke Jalan Roda, atau dikenal

Wisata kuliner kami pun ditutup dengan bersantap di Wisata Bahari Restaurant yang terletak dekat hotel tempat kami menginap, Lion Hotel and Plaza. Kami duduk di teras yang memiliki pemandangan ke Laut Sulawesi dan gunung berapi. Ikan bobara rica-rica dan bunga pepaya kuah santan, pun menjadi menu favorit saya berikutnya. Sebuah penutup yang sempurna selama empat hari di tempat yang luar biasa ini.


Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *