Luwuk

The city of Luwuk is surprisingly reminiscent of the Pearl of the Orient at first glance, as I take in the panorama of the Banda Sea. The spectacular overlook is perfectly framed by the steep slopes of the hills surrounding the city. At night the houses and shops below light up like a jewel – almost a miniature version of Kowloon’s glittering centre.

112And while Luwuk might resemble bustling Hong Kong from a distance, a closer inspection reveals its true charm and character. On my first afternoon exploring the city, I catch a ride from the Aston Luwuk hotel to check out some of  the local culture. My first stop is the fish market. Even before I arrive at the entrance, the briny scent of sun-dried fish hangs in the humid air. I approach one of the displays of fresh fish for sale. Pak Arief, a friendly local man, hefts a yellowfin tuna weighing in at more than 25kg. “Twenty thousand rupiah per kilo,” he boasts with a smile. At the edge of the market’s dock, a group of fishermen are heaving enormous blocks of ice on to a wooden slide, which disappears into the inky black of their ship’s hold. “One block weighs 35 kilos,” one of the fisherman says with a hint of macho pride as he loads the boat. They’ll add 100 identical blocks to their vessel before nightfall – a seemingly impossible amount of work.

 

114Before midnight tonight they’ll be heading for the open horizon of the Banda Sea, spending a week in search of tuna, mahi-mahi, marlin and other blue-water species. By the time their 3,500kg of ice has melted, they’ll be on their way back to Luwuk’s fish market to sell their catch. Some of their most valuable catch might even reach Hong Kong where they’ll fetch a much higher price. Even though I’m only carrying a camera, watching all this work at the fish market is working up my appetite and I’m ready to sample some of Sulawesi’s tasty delights. Wandering around Luwuk’s bustling port area, a local recommends Warung Makan Tomeang – a simple restaurant staffed by a cheerful group of friendly ladies. They’re in the midst of cooking the dinner menu and I’m invited into the back kitchen for a look. I’ve been warned that Sulawesi cuisine is incredibly spicy. In the kitchen a full plate of chopped red bird’s-eye chillies is thrown in a wok and fried with coconut oil. The air in the little room fills with the overpowering heat of the chillies. My eyes begin to water, while everyone else in the kitchen carries on cooking without skipping a beat. The women are cooking highly aromatic spicy fried chicken. They refuse to share their secret spices with me, as long as I can get a taste. After 20 minutes of prep, steaming plates of piping-hot chicken and vegetables are served up. The flavours give a scorching kick in the mouth; it’s invigorating.If you love spicy food, Luwuk will not disappoint. The beauty of Luwuk is that it lures you into a journey that never leaves you looking back.

With my appetite satisfied, I head outside to cool my tongue. I’m eager to explore the natural surrounds on the outskirts of town. Not far off, Pulau Dua Balantak is a spectacular bay guarded by two craggy islands fringed with beautiful beaches and emerald mangrove forests, protecting the low-lying coastal areas from the Banda Sea swells. From the Aston Luwuk, the trip takes about three hours by car – the perfect little escape from the city. We arrive just before sunset to find families from the local fishing village out on the beach soaking up the sun. I want to catch the sunset from the islands, so I charter a boat (Rp.150,000) for the 20-minute voyage. The island- hopping experience is amazing, and as we drive back to town I know that I want to experience more of Sulawesi’s beautiful beaches and islands. And there are many attractive options to consider.

123

It is no wonder most people use Luwuk as a base to explore this part of Sulawesi. Pantai Kilo 5 Luwuk is a white-sand beach with crystal-clear waters only ten minutes from the hotel. Salodik Island in the north district of Luwuk provides a strikingly different landscape with cool, crisp air thanks to thick forests of pine trees. Air Terjun  Hengahena, a 75m-high waterfall, is a sight to behold only 3km westward. I decide to decamp somewhere a little more ambitious: the pristine Togean  Islands 200km from Luwuk. The Togean Islands are a beautiful archipelago made up of 56 islands. The area’s reefs are among the best in the world, so I’m eager to grab a tank and explore. The diving lives up to its legendary  reputation and, by the time I surface, the sky is glowing brilliant shades of orange and magenta. I watch as the sun slips past the Gulf of Tomini. From the water I can glimpse Mount Una-Una, an active volcano surrounded by  undisturbed jungles, and I’m already dreaming up my next adventure. The beauty of Luwuk is that it lures you into a journey that never leaves you looking back.

Pemandangan Kota Luwuk dengan Laut Bandanya, mengingatkan  saya akan Hong Kong. Terutama karena hamparan pemandangan kota yang terlihat dari ketinggian, lengkap dengan bukit-bukit yang mengitarinya. Di malam hari, rumah-rumah dan toko tampak berkelip mirip dengan Kota Kowloon yang gemerlap.

 

118Dari kejauhan, Luwuk mungkin tampak seperti salah satu kota yang sibuk di Hong Kong, namun bila dilihat lebih dekat lagi, Luwuk memiliki pesona dan kekhasannya sendiri. Di siang hari, saya mulai menjelajahi kota dengan menumpang kendaraan dari Aston Luwuk Hotel untuk merasakan budaya lokal. Perhentian pertama saya adalah pasar ikan. Jauh sebelum saya memasuki gerbang pasar, aroma laut dari ikan-ikan yang terpanggang panas matahari sudah tercium di udara. Saya pun menghampiri salah satu lapak yang menjual ikan. Pak Arief, sang pedagang ikan mengangkat tuna sirip kuning dengan berat lebih dari 25 kilo. “20.000 rupiah per kilo,” ujarnya sambil tersenyum.

 

115Di ujung dermaga dekat pasar ikan tersebut, sekelompok nelayan tampak sedang membawa balok-balok es untuk dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan ikan di kapal lewat sebuah papan yang meluncurkan balok-balok es itu. “Satu balok es memiliki berat tiga puluh lima kilo,” ujar salah seorang nelayan sambil memuat balok tersebut ke dalam kapal. Mereka akan memuat 100 buah balok es ke dalam kapal sebelum malam tiba. Bisa dibayangkan beratnya pekerjaan yang harus mereka lakukan. Sebelum tengah malam para nelayan itu sudah harus berada di Laut Banda, berburu ikan tuna, mahi-mahi, marlin dan ikan laut dalam lainnya. Tepat ketika 35.000 kilo es sudah mencair, para nelayan itu sudah sampai di Pasar Ikan Luwuk untuk menjual hasil tangkapan mereka. Beberapa hasil tangkapan mereka ada yang dikirim ke Hong Kong, di mana di sana harganya menjadi lebih tinggi.

 

119Walau saya sedang menenteng kamera, melihat segala macam kesibukan di pasar ikan ini tak urung membuat perut saya terasa lapar dan saya pun siap untuk mencicipi kelezatan masakan khas Sulawesi. Setelah berjalan-jalan di sekitar pelabuhan Luwuk, seorang penduduk lokal menyarankan kami untuk mencicipi menu di Warung Makan Tomeang, rumah makan sederhana dengan pelayan-pelayan yang ramah. Kebetulan mereka sedang memasak menu makan malam, dan saya pun diajak masuk ke dapur untuk melihat proses memasaknya. Saya sudah diingatkan mengenai masakan Sulawesi yang terkenal pedas. Di dapur, satu piring penuh potongan cabai rawit merah dimasukkan ke dalam penggorengan berisi minyak kelapa. Udara di ruang sempit itu pun langsung penuh dengan aroma cabai. Mata saya pun langsung berair, sementara orang-orang di dapur itu terus saja memasak tanpa merasa terganggu sedikit pun. Wanita-wanita itu memasak ayam goreng pedas yang aromanya cukup tajam.Mereka tak mau membagikan resep rahasia mereka kepada saya, yang penting saya menyukai rasanya. Setelah 20 menit memasak, piring-piring berisi ayam dan sayuran pun disajikan. Rasanya yang pedas terasa membakar di lidah, membangkitkan semangat. Jika Anda termasuk orang yang menyukai sajian pedas, Luwuk adalah tempat yang patut Anda kunjungi.

Setelah kenyang, saya pun melangkah keluar untuk mencari udara segar. Saya tak sabar untuk menjelajahi keindahan alam di pinggiran Kota Luwuk ini. Tak jauh dari sini, terdapat Pulau Dua Balantak, sebuah teluk dengan dua buah pulau dan pantainya yang indah serta hutan bakau yang melindungi daerah pesisir dari gerusan Laut 117Banda. Dari Aston Luwuk, untuk mencapai Pulau Dua Balantak, kami membutuhkan waktu tiga jam berkendara. Perjalanan tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk melepas kepenatan akan ramainya kota. Kami pun tiba tepat sebelum hari berganti senja dan bertemu keluarga dari desa nelayan di pantai yang sedang menikmati sinar mentari sore. Karena ingin melihat senja dari pulaupulau, saya menyewa perahu di pantai itu (Rp 150.000) untuk berlayar selama 20 menit.

Pengalaman berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya sungguh menakjubkan, saat kami kembali ke kota, saya tahu betapa saya ingin merasakan lagi keindahan pantai dan pulau-pulau di Sulawesi ini. Ada banyak ajang wisata yang menarik di sini, tak heran bila orang kemudian menggunakan Luwuk sebagai pijakan pertama untuk menjelajahi Sulawesi. Pantai Kilo 5 Luwuk merupakan pantai berpasir putih dengan air lautnya yang jernih, hanya 10 menit dari hotel. Pulau Salodik yang berada di daerah di utara Luwuk memiliki pemandangan alam yang berbeda, di sini hawanya terasa sejuk karena hutan cemara yang rapat. Air Terjun Hengahena, air terjun setinggi 75m, hanya berjarak sekitar 3km ke barat. Saya memutuskan untuk mengunjungi tempat yang lebih menantang: Kepulauan Togean yang masih asli sekitar 200km dari Luwuk. Kepulauan Togean adalah kepulauan yang terdiri dari 56 pulau-pulau kecil.

Pemandangan bawah lautnya sesuai dengan reputasinya yang
melegenda, saat saya naik ke permukaan, langit pun tampak
berwarna jingga

Terumbu karangnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia, saya pun menyelam untuk menikmati keindahan bawah laut Kepulauan Togean. Pemandangan bawah lautnya memang sesuai dengan reputasinya yang melegenda, dan saat saya naik ke permukaan, tampak langit bersemburat warna jingga dan magenta. Saya memandangi matahari yang tergelincir melewati Teluk Tomini. Dari tengah laut, saya dapat melihat Gunung Una-Una, sebuah gunung berapi yang dikelilingi hutan rimba yang langsung membuat saya terbayangkan petualangan berikutnya. Keindahan Luwuk yang memesona benarbenar membuat petualangan Anda tak akan mengecewakan.

5 Senses – Taste
LUWUK-STYLE BANANA FRITTERS

124“Here we have our special pisang goreng,” a Luwuk local tells me. Pisang goreng (banana fritters) are ubiquitous across the Indonesian archipelago. Luwuk-style pisang goreng calls for fresh bananas fried in smoking-hot coconut oil until they’re encrusted with a caramelised crunch as usual, but served with the signature spices of Sulawesi – sweet and spicy!

“Di sini kami memiliki menu pisang goreng spesial,” ujar salah seorang penduduk Luwuk. Pisang goreng adalah penganan yang mudah ditemui di Indonesia. Pisang goreng khas Luwuk ini digoreng dalam minyak kelapa hingga berwarna kecokelatan, namun disajikan bersama sambal khas Sulawesi, rasanya manis dan peda.

 

WHERE TO STAY
Aston Luwuk

125Luwuk’s newest 3-star resort and conference centre offers business and adventure travellers one of the best accommodation options for exploring Central Sulawesi. Situated on a lofty promontory overlooking the Banda Sea, the hotel is perfectly designed to  maximise seaside views. The distinctive bar and lounge area is framed by a sparkling sapphire infinity pool with 180-degree views of the open sea.For room rates and availability call +62 461 312 8080 or visit www.aston-international.com.

 

126

 

 

Resor bintang tiga terbaru di Luwuk ini menyuguhkan akomodasi terbaik bagi para wisatawan bisnis maupun liburan saat mengunjungi Sulawesi Tengah. Terletak di daerah pegunungan yang menghadap Laut Banda, hotel ini didesain agar tamu dapat menikmati pemandangan pantainya yang indah semaksimal mungkin. Daerah bar dan lounge dikelilingi dengan kolam renang infinity sehingga tamu memiliki sudut pandang 180 derajat ke arah laut. Untuk harga dan ketersediaan kamar, Anda dapat menghubungi +62 461 312 8080 atau kunjungi situs www.aston international.com.

 

5 Senses – Scent
LUWUK NIGHT MARKET

Where’s the perfect place to sample the legendary Sulawesi spices in Luwuk? Try the night market on the Luwuk
harbourfront – a 150m stretch of colourful food stalls lining the seawall. In the early evening, local vendors set up tables and chairs to create a bustling open-air restaurant where everything from golden-brown banana fritters to 127fried squid is sold à la carte. Aim to arrive between 8pm and 9pm, just as Luwuk’s friendly residents come out to socialise and share a meal with friends and family. Saturday is usually the busiest night of the week for the local crowd.

Di manakah tempat yang tepat untuk mencicipi sambal khas Sulawesi yang legendaris di Luwuk? Anda bisa mencoba pasar malam di pelabuhan Luwuk, di deretan warung tenda sepanjang 150m di pinggir laut. Di sore hari, para pemilik warung biasanya sudah menata meja dan kursi di udara terbuka di mana makanan yang dijual mulai dari pisang hingga cumi goreng dijual per biji. Datanglah pada jam 8-9 malam, saat penduduk lokal yang ramah keluar untuk bersosialisasi dan makan bersama teman dan keluarga. Tempat ini biasanya paling banyak dikunjungi di Sabtu malam.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *