Labuan Bajo, Bima, Ende


Labuan Bajo

Labuan Bajo merupakan pijakan pertama bagi para wisatawan yang ingin menikmati pesona Flores. Mark Eveleigh mengulas keindahan kota yang bangsa Portugis dahulu mengenalnya dengan nama ‘Cape Flowers’.

78

‘You don’t have to see the whole staircase, just take the first step’. Tulisan itu terpampang di tangga menuju teras sebuah bar yang menghadap laut di Labuan Bajo. Tampaknya tulisan tersebut pas dengan suasana kota yang berdekatan dengan laut ini. Flores yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur, terbentang hingga sepanjang 500km mulai dari Labuan Bajo dengan gunung berapinya yang membuat kontur pulau ini begitu indah.

Sampai di ujung tangga, saya dapat melihat keseluruhan pemandangan Teluk Labuan Bajo yang terbentang di hadapan kami. Benar-benar sebuah pelabuhan alami yang membuat penemu pertama pulau ini akhirnya tergoda untuk menetap di sini. Menurut perkiraan saya terdapat lebih dari seratus perahu dan kapal yang membuang sauh di sini, karena pelabuhan ini cukup terlindungi dengan adanya pulau-pulau kecil tak berpenghuni di dekatnya. Selain perahu nelayan dan kapal feri sebagai alat transportasi, terdapat pula beberapa kapal layar khas Bugis dengan dayung-dayungnya yang bergerak bersamaan. Perahuperahu kayu tersebut membuat suasana pelabuhan ini terasa seperti pada zaman dahulu; tampak tak banyak perubahan terjadi sejak pelaut bernama William Dampier menurunkan anak buahnya di pulau ini tahun 1699.

Di masa modern ini, percakapan di teras bar yang menghadap ke laut tak lagi mengenai keberanian ataupun perompakan kapal, tetapi mengenai petualangan di Labuan Bajo. Saya pun menuangkan sedikit sophie (arak tradisional yang terbuat dari kelapa asli Flores) ke dalam segelas minuman bersoda dan mencoba mencuri dengar pembicaraan orang-orang di sekitar tempat saya duduk, sambil memandangi keindahan laut di hadapan saya. Di area balkon, dua orang pria di sebelah kanan saya sedang membahas soal komodo. Mereka tampaknya seorang ahli lingkungan hidup – satu orang dengan logat Jerman dan yang satu lagi Amerika – dan sesuai dengan latar belakang keilmuannya, mereka tak pernah menggunakan kata ‘komodo’ untuk merujuk reptil raksasa yang menghuni Kepulauan Komodo. Agak jauh, di sebelah kiri saya, terdengar nada suara yang agak tinggi – kali ini dalam bahasa Spanyol – sekelompok penyelam sedang membahas sejumlah titik menyelam yang mengandung banyak teluk dan terumbu karang. Bahkan dari atas balkon yang tinggi ini, Anda dapat melihat sekelompok ikan tropis yang sedang berenang di lautan yang berair jernih. Sementara agak ke tengah laut, para penyelam berharap dapat bertemu pari manta raksasa atau menyelam bersama lumba-lumba dan paus hiu. Hal-hal semacam itulah yang biasanya dilakukan para wisatawan yang sengaja datang ke Labuan Bajo ini, bertemu komodo yang terkenal atau menyelam di Taman Nasional Komodo.

Baru-baru ini Lonely Planet menyebut
Labuan Bajo sebagai ‘hotspot ekoturisme
Indonesia berikutnya’ .

Baru-baru ini Lonely Planet menyebut Labuan Bajo sebagai ‘hotspot ekoturisme Indonesia berikutnya’ dan kota ini memang telah berkembang cukup drastis selama sepuluh tahun terakhir ini. Terutama dengan berdirinya bar, hotel berkualitas serta restoran seafood yang buka sepanjang hari. Pertama kali datang ke tempat ini, saya menempuh perjalanan darat selama 10 hari melewati Trans- Flores Highway untuk menuju pelabuhan Larantuka, dan selama beberapa tahun terakhir ini, Labuan Bajo selalu menjadi tempat bertolak dalam setiap perjalanan di pulau ini. Mungkin pada kesempatan berikutnya, saya akan menjadikan kota ini sebagai base-camp untuk memulai perjalanan ke Taman Nasional Komodo di mana saya dapat berjalan di antara kawanan komodo dan menyelam di antara terumbu karang dengan gerombolan ikan-ikan kecil penasaran yang berenang mengitari saya.

Anda dapat melihat sekelompok ikan tropis yang sedang berenang di lautan yang berair jernih. Sementara agak ke tengah laut, para penyelam berharap dapat bertemu pari
manta raksasa atau menyelam bersama lumba-lumba.

Bagi sebagian besar orang, Labuan Bajo merupakan tempat pijakan pertama sebelum memulai perjalanan wisata sehingga kota ini pun berkembang menjadi hub transportasi yang cukup penting. Namun kota kecil yang memesona ini juga pantas dijadikan destinasi wisata, karena kini semakin banyak wisatawan yang tertarik dengan kota yang memiliki kontur berbukit ini di mana keindahan pemandangan teluknya dapat dinikmati dari semua hotel dan restoran di kota ini. ‘Perjalanan ribuan kilometer selalu dimulai dengan pijakan pertama’ demikian ungkapan seorang filosofis China Lau-tzu. Namun terkadang pijakan pertama itulah yang ternyata paling menyenangkan.

 

5 Senses – Sight
DRAGONS

87Rasakan debaran jantung Anda saat menelusuri habitat komodo di Pulau Rinca. Responsible Travel (mulai dari US$300 untuk 5 hari) menawarkan paket perjalanan menelusuri Taman Nasional Komodo dengan kapal pribadi. Anda bisa berlayar melewati tempat-tempat menarik dan menyelam sebelum menjelajahi pulau di antara kawanan komodo.

 

5 Senses – Sound
WAVES

88Anda dapat bersantai sambil mendengar deru ombak di pantai yang berada di Bintang Flores Hotel. Hotel ini berada di pinggiran Kota Labuan Bajo, dengan dive centre yang tak jauh dari kepulauan Komodo. Harga kamar mulai dari US$130 untuk double bed.

 

 

Bima

Samantha Brown berkeliling Bima dan menikmati denting suara alam, keharuman dan keindahan kota yang baru-baru ini menjadi tujuan penerbangan Garuda Indonesia, dilayani dengan pesawat antar pulau terbaru ATR 72-600 ‘Explore’.

Hari ini hujan turun membasahi Pantai Lakey yang terkenal di kalangan para peselancar dunia karena ombaknya yang indah. Pantai yang juga sering disebut sebagai ‘Lakey B’ dan Lakey’s Peak ini memiliki garis pantai yang panjang melengkung penuh titik selancar dengan ombaknya yang menggelora, berjarak hanya dua jam berkendara ke selatan dari Bima, kota yang bernuansa barat di Sumbawa. Namun cuaca bukanlah menjadi sebuah halangan untuk menikmatinya. Kami berteduh di salah satu dari sekian banyak penginapan yang terletak di sepanjang pesisir, sembari menikmati sepiring carpaccio dan sensasi segar sashimi ikan marlin yang dicelup kecap asin dengan wasabi, hasil pancingan beberapa saat lalu.

Di depan kami para peselancar tengah beratraksi membelah ombak, sebuah pemandangan yang indah walaupun sedikit terhalang oleh bunga sepatu yang bergoyang-goyang diterpa angin dan semburan warna merah muda bunga bugenvil yang menawan. Peselancar-peselancar Australia yang pertama kali menunggangi ombak-ombak ini pada tahun 1980, namun saat ini pengunjung datang untuk menonton kompetisi selancar Rip Curl Gromsearch di Lakey’s Peak, salah satu area selancar yang terkenal dengan ombak karangnya yang dapat diakses dengan mudahnya dari pantai. “Tak ada tempat lain di Sumbawa yang memiliki ombak kelas dunia yang konsisten untuk berselancar seperti ini,” kata David Burden, seorang fotografer yang berasal dari Inggris. “Saya selalu berkunjung ke sini sejak tahun 2000 – dan tempat ini sangat sempurna untuk melarikan diri dari tempat-tempat surfing yang ramai di Bali.” Beberapa peselancar yang suka tantangan mencoba untuk mencari tempat surfing-nya sendiri – tapi jangan berharap mereka mau memberitahukan di mana letaknya.

Saat kami kembali ke pantai, kami mencari tempat berteduh dari lebatnya hujan. Sekelompok penduduk lokal menawarkan ubi manis panggang dan bongkahan-bongkahan besar mangga yang manis; di kejauhan nampak sebuah bangunan kayu yang didirikan untuk tempat penjurian di Lakey’s Peak, dengan titik fokus dan jaraknya dekat dengan ombak, tempat ini juga strategis untuk memotret kegiatan berselancar, dan peselancar dengan wajah penuh zinc putih berjalan kaki melintasi pasir menuju ombak yang menanti mereka. Saat langit kembali cerah, kami menyewa sepeda motor untuk menjelajahi seluruh pesisir, menikmati keindahan pantai yang penuh dengan pasir di tepian Samudra Hindia ini, dan melihat seorang penduduk lokal yang sibuk mencari-cari sesuatu di antara bebatuan dan karang-karang pada saat surut. Jalan yang kami lalui perlahan berakhir dengan munculnya sebuah jembatan dan sebuah air terjun mengalir menuju lautan. Seekor monyet berlalu dengan terburu-buru; kami merasa seperti tengah berada jauh di pedalaman dan menyaksikan badai tengah bermain di kejauhan.

Bima adalah tujuan menarik untuk para petualang sejati yang ingin menyingkap
rahasia-rahasia Sumbawa. Saat keramaian Bali membuat Anda bosan, Anda hanya
membutuhkan waktu sejam saja untuk menuju ke tempat ini

Walaupun matahari masih belum nampak, kami masih akan meneruskan berkendara di jalanan berlumpur ini dan melihat apa yang bisa kami temukan nanti. Dengan rute penerbangan domestik Garuda Indonesia yang baru menuju Bima, akan ada banyak petualangan seperti ini yang dapat dinikmati. Daya tarik alam lainnya terletak di sudut Sumbawa, di mana para penjelajah dapat merasa tertantang untuk menaiki Gunung Tambora setinggi 2,722 meter di atas permukaan laut, yang terkenal dengan letusan terbesarnya yang tercatat dalam sejarah pada tahun 1815. Jenis pendakiannya tidaklah membutuhkan banyak peralatan, namun sayangnya kami tak dapat mendaki gunung tersebut di musim hujan, dan pasti akan sangat menantang walaupun dilakukan di musim kemarau dengan hadiah  pemandangan yang mengesankan menunggu di puncaknya. Kembali ke Kota Bima, kami memutuskan untuk mampir ke tepi pantai Desa Sangiang, di mana sebuah komunitas asal Bugis asli Sulawesi masih mencoba mempertahankan tradisi pembuatan kapal tradisional pinisi. Untuk mencapainya membutuhkan waktu dua jam melintasi pegunungan yang hijau dengan sawah-sawah  diantaranya, melewati sungai-sungai kecil penuh bebatuan dan rumahrumah kayu berwarna-warni. Kami menghampiri beberapa kapal pinisi yang hampir selesai yang bersandar di atas pasir vulkanik. Praska, salah seorang dari lima pembuat kapal tersebut mengatakan bahwa dia telah bekerja untuk menyelesaikannya dalam empat bulan terakhir dan kemungkinan akan selesai delapan bulan lagi. Kapal seharga US$ 200,000 ini akan dipakai untuk mengangkut kayu dari Kalimantan ke Pulau Jawa. Kapal jenis ini dapat mencapai panjang 27 meter pada bagian bawahnya dan tinggi sembilan meter dengan tiang sepanjang tujuh meter akan ditancapkan di bagian atas kapal. Namun, pembuatan kapal ini semakin lama semakin berkurang, kata Praska, “Sebelumnya jumlahnya jauh lebih banyak. Namun sekarang hanya beberapa saja.”

Bima sendiri menawarkan kisah unik dari Pulau Sumbawa yang lama terisolasi. Catatan sejarah tentang kerajaannya sendiri tidak terlalu jelas, akan tetapi terjadi peralihan agama Hindu ke Islam di abad ke-18 di sini, dan kesultanan Bima sendiri berakhir pada saat kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Istana sultan terakhir yang dibangun pada  tahun 1927 ini sekarang dipenuhi rumput dan rusa yang berkeliaran. Dalam kunjungan kami, seorang penjaga terpaksa harus memanjat jendela dahulu untuk dapat membukakan pintu bagi kami. Setelah melepaskan alas kaki, kami masuk melewati rak kaca berdebu yang memajang berbagai barang termasuk alat musik dan penangkap burung. Tak banyak yang Anda ketahui, akan tetapi papan kayu yang sudah lapuk, kamar bangsawan yang dipenuhi berbagai perabot tua, gantungan tempat lilin yang bergoyang-goyang dan foto-foto yang memudar menyuarakan sendiri cerita mereka. Tak jauh dari sana terdapat sebuah masjid indah yang dibangun di masa yang sama, beratapkan sirap yang seakan hendak runtuh dan di depannya terdapat air mancur yang kosong; kami berjumpa dengan seorang guru yang baik hati dan sekawanan anak kecil berumur lima tahunan yang, sama seperti anak lainnya di Sumbawa, ingin berfoto dengan kami. Bima adalah tujuan menarik untuk para petualang sejati yang ingin menyingkap rahasia-rahasia Sumbawa; saat keramaian Bali membuat Anda jenuh, Anda hanya membutuhkan waktu sejam saja untuk menuju ke tempat yang menawarkan banyak tempat rahasia yang menarik untuk dijelajahi.

Bima adalah tujuan menarik untuk para petualang sejati yang ingin menyingkap rahasia-rahasia Sumbawa.  Saat keramaian Bali membuat Anda bosan, Anda hanya
membutuhkan waktu sejam saja untuk menuju ke tempat ini.

5 Senses – Sound
RURAL LIFE

Sangatlah mudah untuk menikmati kehidupan pedesaan Sumbawa. Bahkan di Bima dan sekitarnya Anda akan mendengar alunan melodi loncenglonceng sapi yang merumput di pinggir jalan, bunyi derap tapal kuda yang membawa penumpang berkeliling dan embikan kambing yang mengejutkan kerap terdengar di mana-mana. Saat Anda menjelajah di luar kota, Anda akan mendengar bunyi tonggeret dengan suaranya yang nyaring terdengar di udara yang panas – Sumbawa terletak di bagian timur garis Wallace artinya, binatang-binatang di sini lebih cenderung termasuk spesies dari Australia daripada Asia.

5 Senses – Taste
SUMBAWA  SPECIALITY

Makanan sari laut segar adalah hidangan khas Pulau Sumbawa, namun di Bima Anda dapat menemukan makanan dari berbagai daerah dari Indonesia, seperti sate dengan bumbu kacang, martabak manis yang penuh dengan keju dan susu kental manis, dan juga masakan Padang. Jika ingin membeli oleh-oleh, madu Sumbawa asli yang berasal dari lebah hutan bisa menjadi pilihan yang tepat. Ada juga tantangan untuk Anda yang cukup berani  mencicipi berbagai hal, kami bertemu dengan pedagang keliling yang menjual susu kuda di hotel kami. Kadar lemaknya lebih rendah daripada susu sapi, dan menurut pedagang tersebut, “susu kuda liar ini membuat Anda semakin kuat!”

Ende

Berbicara tentang Flores, semua perhatian akan tertuju  pada bagian baratnya, Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo; hanya sedikit yang melirik Ende, yang terletak di ujung tenggara pulau ini. Tak banyak yang tahu bahwa kota perbatasan ini banyak menawarkan keindahan tersembunyi yang menanti untuk ditemukan.

133Kami mendarat di Bandara Ende yang mungil setelah terbang di atas Pulau Flores yang tertutup kabut dengan semburat warna hijau zamrud. Saat menginjakkan kaki ke daratan, tampak semenanjung nan elok dikelilingi oleh Laut Sawu berlatar belakang gunung berapi kembar, yaitu Gunung Meja dengan puncaknya yang datar dan Gunung Iya yang masih aktif. Tak banyak hal yang terjadi di kota pelabuhan yang sunyi ini, terutama setelah jam 9 malam, itulah kesan yang kami dapatkan saat berjalan berkeliling. Hotel dan restoran yang ada di sana sangatlah sederhana, tidak ada yang bertaraf internasional. Kota ini luluh lantak oleh gempa bumi pada tahun 1992, tidak banyak arsitektur tua yang tersisa, kecuali beberapa bangunan seperti Gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1930-an. Akan tetapi, Ibu Kota Flores menyimpan pesona keramahan yang langka. Penduduknya (campuran antara suku Lio dan Ende) sangat ramah dan murah senyum, mungkin karena mereka tak biasa melihat orang asing di sekitar mereka. Saya pun tidak melihat banyak orang asing selama berada di sini. Anak-anak sekolah dan setiap orang yang berkendara melewati saya memberikan ucapan selamat datang yang hangat, dan menyapa “Hello Mister” walaupun saya adalah seorang wanita.

Bersiaplah untuk berpetualang dan menuju Pantai Ende yang terletak di pusat kota yang berbentuk seperti bulan sabit ini. Pantai dengan pasirnya yang hitam ini memang kurang cantik jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di pinggiran kota, namun selalu ramai dikunjungi di penghujung hari. Beberapa kelompok anak muda datang bermain sepak bola di pasir pantai, dan beberapa warung kopi tampak ramai oleh pengunjung yang rata-rata adalah penduduk sekitar. Mereka duduk dan membeli minuman dingin, sambil menyaksikan perahu nelayan yang hendak melaut, serta menikmati langit jingga saat matahari terbenam di balik gunung berapi di kejauhan. Di bagian selatan pantai ini terdapat pelabuhan tua; di pagi hari, Anda dapat melihat nelayan-nelayan tersebut kembali dari laut dan membawa hasil tangkapan semalam yang langsung dijual di pasar ikan yang ramai setiap paginya. Tak diragukan lagi, daya tarik Ende adalah kecantikan alamnya yang tersebar di kabupaten ini. Tak banyak lalu lalang kendaraan di jalanannya, dan tak lupa pemandangan cantik menanti siapapun yang tertarik mengelilinginya. Cobalah untuk menyewa motor, dan berkeliling untuk menikmati pemandangan yang ada.

Ende generally serves as a launch pad for Mount
Kelimutu and its mystical tri-coloured lakes at the
summit (1,641m high). A bucket list ‘must-do’ and one of
Indonesia’s most jaw-dropping natural phenomena

Ende adalah pintu gerbang untuk menuju Gunung Kelimutu dan Danau Tiga Warna yang terletak pada ketinggian 1641m. Danau ini termasuk fenomena alam yang paling menakjubkan di Indonesia, sebuah tempat yang harus Anda kunjungi, terhampar di dataran tinggi yang sama cantiknya dengan danau itu sendiri. Danau ini dapat dicapai dengan berkendara 50km ke arah timur. Jalanan yang berliku akan menyingkap keindahan gunung berselimut hutan tebal. Tumbuh-tumbuhan hijau terhampar luas diselingi dengan berbagai air terjun, dan juga sawah-sawah dengan desa
penduduk yang memadati lembah. Anda mungkin akan berjumpa dengan kendaraan-kendaraan berstiker unik, kawanan kambing, dan masyarakat lokal yang berpakaian adat. Di Taman Nasional Kelimutu, berjalanlah selama dua puluh menit ke atas bukit dan Anda akan menjumpai tiga danau yang bersebelahan, terletak di kaldera gunung berapi. Ketiga danau ini paling indah jika dilihat dari pos pengamatan. Warna dari danau ini berubah secara teratur, dari cokelat gelap menjadi merah menjadi warna zamrud dan biru cerah, yang disebabkan oleh gas dan berbagai mineral yang terkandung di dalam gunung berapi. Dalam budaya Lio, ketiga danau  suci ini dipercaya sebagai ‘persinggahan’ bagi arwah dari orang yang telah meninggal – ketiga danau suci tersebut diperuntukkan bagi mereka
yang ‘muda’, ‘tua’, atau ‘jahat’. Sebuah upacara penyucian diadakan setiap bulan Agustus dimana penduduk setempat akan mendoakan kelancaran jalan arwah leluhurnya menuju Surga… atau mungkin Neraka.

91

Ada banyak hal yang dapat dijelajahi ketika menuju ke barat pulau ini melalui jalan raya Trans-Flores. Bergegaslah menuju Bajawa melewati jalan berliku dan berbukit dan Anda akan menemukan banyak pantai berpasir hitam
yang berkilau, dikelilingi pohon-pohon kelapa yang melambai dan desa-desa nelayan nan unik dengan atap-atap masjid bermunculan di antara rumah-rumah. Berhentilah di Pantai Mbuliwaralau yang tersembunyi di balik
lebatnya perkebunan kelapa; sama seperti pantai lainnya, pantai ini masih belum terjamah dan sangatlah sepi.
Desa-desa nelayan di luar Kabupaten Ende juga menarik untuk dijelajahi, tidak hanya menyingkapkan kehidupan tradisional ala pedesaan yang masih dilestarikan, namun Anda juga dapat mempelajari seni tenun ikat masyarakat Lio yang masih banyak terdapat di sini. Wanita-wanitanya menenun kain ikat tradisional dengan alat tenun sederhana, menghasilkan kain cantik bermotif khas yang disampirkan di kios-kios pinggir jalan. Naiklah ke jalan yang melewati bukit 12km di timur menuju ke Wolotopo (sebelumnya ada sebuah tempat singgah yang menyajikan
panorama menakjubkan Teluk Ende); pemukiman masyarakat Lio yang panoramik menghuni bukit-bukit tepi laut. Bukit bagian atasnya kebanyakan dipenuhi oleh bangunan tradisional beratapkan daun rumbia yang dipakai untuk upacara adat, dan juga bangunan tradisional lainnya yang dinamakan keda kanga yang berisi tulang-tulang dari nenek moyang suku ini.

103Sebuah pemandangan yang kontras dengan antena tv parabola dan kesibukan masyarakat setempat. Saat kembali ke Ende, berhentilah di Desa Ndona yang terletak di tepi sungai, terkenal dengan ikat Lio-nya. Kain ikat ini dibuat secara organik, menggunakan tangan dan pewarna alam. Kain-kain ini dijual ke banyak kolektor di seluruh dunia, jadi, nikmati waktu Anda untuk memilih oleh-oleh yang tak ternilai harganya ini langsung dari para penenun aslinya. Setelah beberapa hari menjelajah, saya terpesona oleh kota kecil di antah berantah yang tadinya saya pikir tidak memiliki daya tarik apapun. Sayup-sayup terdengar suara ceria anak-anak kecil yang memberi saya ucapan “Goodbye Mister!” dan melambaikan tangannya saat pesawat saya lepas landas, membuat sebagian hati saya berat untuk meninggalkan kota ini.

5 Senses – Sight
GETTING THE BLUES

Ende dikenal dengan batuanbatuan biru laut dan juga biru muda nan unik terbentuk dari keajaiban alamnya. Pantai Batu Biru terletak 25km ke arah barat, yang dulunya terkenal dengan hamparan batu nan indah ini; namun karena sekarang menjadi komoditas utama, maka banyak dari bebatuan itu telah dijarah dan diekspor. Badai-badai besar dan erosi pasir juga turut merusak pantai ini. Lihatlah dengan seksama di sepanjang pantai-pantai Ende atau bukit-bukit yang telah terpotong dan Anda masih bisa menemukan banyak batu biru nan unik ini untuk dikagumi.

5 Senses – Taste
SPICE IT UP

Di sekitar bukit, terdapat banyak perkebunan cengkeh organik, juga cabai merah, merica dan jahe. Flores juga terkenal dengan biji kopinya yang aromatik, dan perkebunan kopi yang tersebar di pulau ini adalah bukti nyatanya. Ende terkenal dengan kopi jahenya yang cukup aneh bagi sebagian orang, namun perpaduan dua komoditas ini menghasilkan kombinasi sempurna dari kenikmatan kopi dan kesegaran aroma jahe, cocok dinikmati di pagi hari. Anda dapat menikmatinya di berbagai rumah makan yang tersebar di penjuru kota.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *