Cenderawasih Bay

Melalui jendela pesawat Garuda Indonesia ATR 72-600, saya melihat Pulau Biak di bawah sana. Kami terbang mendekati Biak, sebuah Pulau berselimutkan hutan hujan dengan burung-burung, serangga, dan tanamannya yang eksotis. Tapi saya datang ke sini bukan untuk melihat kehidupan di atas permukaan laut tersebut.

Garuda May2015 HR_Page_117_Image_0001Biak dan Kota Manokwari di Papua bagian tenggara, adalah pintu masuk menuju lokasi selam yang baru dan menarik di Papua Barat, yaitu Teluk Cenderawasih dengan biota lautnya yang kaya. Terumbu karangnya dipenuhi ikan berwarna-warni, sementara peninggalan perang di plateau memberikan tempat berlindung bagi kehidupan laut dalam skala besar. Belum lagi dengan adanya hiu paus, Anda langsung mengerti mengapa Teluk Cenderawasih wajib ada dalam daftar impian setiap penyelam. Begitu pesawat mendarat, saya mulai menelusuri di Kota Biak dengan berjalanjalan di pasar dan mengenal masyarakatnya, sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya dengan kapal pinisi, Damai I. Kapal berbahan kayu yang dibuat secara tradisional ini akan menjadi rumah saya selama dua minggu menyusuri Teluk Cenderawasih dan melakukan aktivitas selam. Selama Perang Dunia II, Biak merupakan salah satu markas Sekutu, lalu Jepang juga menggunakannya sebagai basis pertahanan. Di sinilah saya bisa menyelam mendekati benda istimewa dari zaman perang, pesawat amfibi Catalina PBY. Walaupun mesinnya telah diselamatkan, bangkai pesawat ini tetap utuh, menghiasi koral, dikelilingi oleh gerombolan ikan, dan masih menunjukkan garis-garis kapal amfibi yang bergaya. Selama Perang Dunia II, kapal-kapal amfibi PBY Catalina tersebut digunakan sebagai peralatan perang selam, pengeboman, pengawalan, misi pencarian dan penyelamatan (terutama penyelamatan udara-laut), dan kargo. Seluruh badan pesawat tersebut kini ditumbuhi koral lunak dengan ikan lepu ayam/ikan singa (lionfish) yang berenang di sekitarnya, mencari ikan kecil untuk dimakan. Sebuah transformasi yang indah.

Saya juga diberi tahu bahwa penampakan ikan prasejarah, coelacanth, dapat ditemukan di lepas Pantai Biak. Ikan langka ini biasanya hidup di kedalaman sekitar 100 meter atau lebih, dan hanya penyelam khusus yang dapat menemukan habitatnya. Namun di sini, penampakan ikan tersebut dapat dijumpai pada kedalaman hanya 30 meter. Walaupun pada penyelaman kami kali ini tak menjumpai penampakan coelecanth, tetap saja, petualangan terasa menyenangkan. Di bagian utara Teluk Cenderawasih, kami menjelajahi pulau-pulau terpencil dan atol dengan sejumlah titik singgah yang menawarkan panorama indah serta bukit-bukit kapur. Di bawah terumbu karang hitam, tampak ikan jagungan asli (longnose hawkfish) yang sedang memburu ikan-ikan kecil berwarna perak yang sedang berenang di antara cabang terumbu karang.Setelah menelusuri pulau-pulau di bagian timur Biak, kami mengarah ke Manokwari, yang juga merupakan tempat sejumlah bangkai kapal perang ditemukan. Kami menjelajahi bangkai kapal kargo yang masih memuat botol-botol sake, dan kapal lainnya yang dipenuhi terumbu karang dan ikan kelelawar. Sebuah penyelaman menakjubkan, dengan hulu bom yang masih berada di bagian belakang bangkai kapal. Di sinilah kami menjemput jagawana di kantor pusat Taman Nasional Teluk Cenderawasih, yang ikut dengan pinisi menuju selatan ke taman nasional.

Garuda May2015 HR_Page_118_Image_0002Melihat hiu paus adalah tujuan utama kami, tetapi di teluk yang luas itu juga terdapat habitat makanan tiga mamalia laut, yaitu duyung, lumba-lumba, dan paus. Di darat, kepiting kelapa, artropoda darat terbesar.  Ada banyak pulau dan tempat menyelam di tempat yang kami lewati. Taman Nasional Teluk Cenderawasih tersebut terletak di sebelah barat daya Teluk Cenderawasih. Papua, di sisi barat Papua Nugini, adalah provinsi terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk paling sedikit. Tiga juta orang hidup di area seluas lebih dari 42 juta hektar (sekitar setengah dari ukuran negara bagian California, di mana 80 persennya tertutup hutan. Ketika kami menyelam ke arah selatan untuk mencapai taman, tak ada yang kami jumpai selain hutan hujan yang lebat di sepanjang pantainya. Teluk Cenderawasih secara geologis masih terisolasi sampai saat ini, dan dari peta pun terlihat betapa terisolasinya tempat ini. Ini berarti hanya sedikit arus yang mengalir melalui perairan Teluk Cenderawasih, dan dengan demikian hanya sedikit larva laut yang terkumpul dibandingkan sisi barat seperti Raja Ampat. Isolasi ini telah menghasilkan sejumlah spesies endemik yang menarik bagi ahli biologi kelautan termasuk penemuan terkini, yaitu hiu dan ikan kepe-kepe berhidung panjang yang berwarna unik. Papua dan Biak baru-baru ini mulai dieksplorasi pada daratan dan lautnya.  Situs-situs baru menunggu ditemukan sementara situs-situs yang sudah ada mendapatkan penelitian lebih lanjut.  Kami melanjutkan perjalanan menuju selatan ke Desa Kwatisore, wilayah hiu paus. Titik selam ini memiliki spesies unik seperti ikan kodok berbulu, ikan pipa hantu, dan kuda laut yang hidup dekat bangkai pesawat tempur Zero yang digunakan Jepang pada Perang Dunia II. Di Tanjung Mangguar ini dapat dijumpai terumbu karang lunak, gorgonian merah, serta pengalama berenang di sela batu karang pada perairan dangkal dan landasan berpasir di lereng laut. Segerombolan ikan kuwe sempat mengelilingi kami.

Garuda May2015 HR_Page_115_Image_0002 Hiu paus sebagai penghuni Teluk Cenderawasih mengetahui bahwa nelayan dengan alat yang disebut bagan menangkap ikan kecil pada malam hari dengan diterangi lampu. Hiu paus memiliki mulut besar dengan 6.000 gigi kecil yang tidak berbahaya bagi manusia karena mereka hanya memakan plankton. Meskipun mulut mereka besar, tenggorokan mereka hanya selebar 10 cm. Para nelayan di bagan ini sepertinya sudah mulai memberi makan hiu paus sejak satu dekade lalu, dan menganggap keberadaan hiu-hiu itu sebagai keberuntungan. Ikan kecil adalah sumber protein bagi hiu paus, sehingga hiu-hiu ini pun rajin datang sampai saat ini. Saya terjun ke dalam air, lalu teman saya, Gusti, memberikan saya kamera sambil menunjuk. Saya melihat ke sekeliling. Hanya berjarak beberapa meter, terdapat hiu paus berukuran besar. Hiu bintang adalah salah satu nama sebutan untuk ikan ini. Pola bintik yang tampak jelas pada ikan raksasa ini tidak diragukan lagi, dan terdapat lebih dari satu hiu bintang. Dari penglihatan saya, setidaknya ada lima ekor hiu yang berenang di atas, bawah, dan sekitar bagan tersebut. Saya tahu pasti saya akan banyak senang di tempat ini. Kami mengunjungi banyak bagan selama dua hari ini, mengamati hiu-hiu itu datang dan pergi. Mereka cukup tenang dan konsisten untuk datang dan berada di sekitar kami. Biasanya, hiu paus berenang di permukaan laut atau dekat permukaan laut dan mengambil makanan dari kami sambil berenang. Gerakan ekor hiu yang lambat sesungguhnya menyimpan tenaga besar, bahkan penyelam berpengalaman sekalipun sulit untuk mengikuti dan memotretnya. Namun tempat ini bak sebuah studio hiu paus, dengan ikan raksasa yang datang untuk berpose. Menghadapi hiu sebesar itu awalnya terasa menakutkan. Tapi setelah beberapa saat, gaya berenang mereka yang anggun dan lembut menggantikan rasa takut dengan kekaguman.

 Kami menjumpai beberapa hiu paus jantan berukuran kecil, sepanjang tiga meter, dan seekor hiu paus betina berukuran besar, yaitu sekitar sembilan meter dengan bobot berton-ton. Hiu paus dapat tumbuh hingga mencapai panjang nyaris 20 meter, jadi hiu-hiu yang saya lihat itu masih dalam kategori anak-anak. Sedikitnya tiga ekor hiu dan paling banyak delapan ekor hiu muncul di setiap sesi kami memberi makan selama dua hari ini.  Sungguh momen yang mengesankan. Menelusuri peninggalan masa perang, menjelajahi hutan yang lebat, menikmati karya seni etnik, ataupun mengikuti hiu terbesar di laut, Papua menawarkan petualangan yang nyata. Saat ini, belum ada jalan menuju Taman Nasional Teluk Cenderawasih, bahkan jalan-jalan di Manokwari sebagian besar hanya bisa ditempuh dengan kendaraan four-wheel drive. Daerah ini mungkin satu dari sekian tempat wisata paling terpencil di dunia. Benar-benar Indonesia, belum terjamah dan mengagumkan.



5 SENSES



Garuda May2015 HR_Page_116_Image_0005

1. PAPEDA

Papeda dikenal sebagai hidangan favorit di Papua yang biasanya disajikan untuk sarapan, menggantikan peran nasi sebagai makanan sehari-hari. Papeda umumnya disantap dengan sup atau saus yang dibuat dari tuna atau ikan lokal. Papeda juga dapat dinikmati bersama ikan panggang yang disebut kohu-kohu.


Garuda May2015 HR_Page_116_Image_00042. MUSIC AND DANCE

Musik dan tari selalu menjadi unsur penting dalam budaya Papua Barat. Jika sempat, saksikanlah pertunjukan budaya, atau ketika mendaki, perhatikanlah lagu-lagu unik Pasifik- Melanesia yang dimainkan saat Anda berjalan melewati pedesaan. Musik yang diiringi oleh ukulele, gitar, dan gendang dari kulit biawak ini menghasilkan bunyi-bunyian tropis khas Indonesia.


 Garuda May2015 HR_Page_121_Image_00033. MORNING MARKET

Pasar pagi di Indonesia memang tiada duanya, dengan segala jenis aromanya. Garam laut, kunyit, rempah-rempah, kedelai, bawang, limau, tapioka, talas, kelapa, cabai merah pedas dan saus cabai, buah pinang, daun sirih, kacang, tas noken, an banyak hal lainnya dapat ditemukan dengan berkeliling pasar lokal di Biak dan Manokwari.



Garuda May2015 HR_Page_114_Image_00014. THE RAINFOREST

Universitas Negeri Papua di Manokwari banyak melakukan riset di bidang herbalisme. Universitas ini terletak di atas bukit yang menghadap kota, dengan hutan tropis lebat di sekitarnya. Para penelitinya pun memiliki kemudahan akses ke sejumlah flora paling eksotis di dunia.Cobalah berjalan-jalan di daerah tersebut untuk mengenal lebih dekat berbagai jenis tanaman, pepohonan, daun, bunga, serangga, dan bahkan kupu-kupu endemik yang membentuk ekosistem unik ini


Garuda May2015 HR_Page_118_Image_00045. HANDCRAFTED ART

Di Manokwari, banyak seniman lokal mengaplikasikan keahlian mereka di bengkel kerja yang ada di rumah mereka. Pastikan untuk mengunjungi rumah pelukis, Lucky Kaikatui, untuk melihat lukisan panorama menakjubkan dari hutan Papua. Lihatlah juga para pengrajin ukiran lokal bergaya Korwar seperti Nico Asaribab, serta penenun seperti Marice Fonataba yang membuat rok berbahan daun pandan dengan tangan.

 

 

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *