Bromo


Memandangi matahari terbit di lautan pasir yang ada di kaki kawah Gunung Bromo, Anda bak membeku dalam jalinan ruang dan waktu. Pemandangan yang ada pun mengajak kita kembali ke masa lalu.

17Kami mengunjungi Bromo tepat di musim hujan. Saat yang kurang tepat sebenarnya – kabut tebal terkadang turun tiba-tiba, menutupi pandangan. Tetapi musim hujan ini memiliki keajaibannya sendiri. Kabut yang datang tiba-tiba, secepat itu pula menghilang, dan efek yang ditinggalkannya sungguh menakjubkan – pepohonan, lereng kawah, dan gunung itu sendiri – muncul dalam pandangan seiring menghilangnya kabut tebal, bak potret polaroid yang dicetak langsung di depan mata Anda.Dengan ketinggian sekitar 2.392 kaki, Bromo sebenarnya bukanlah termasuk gunung berapi terbesar di Indonesia, namun struktur dan keunikan pemandangan yang melingkupinya menjadikan Bromo, satu dari sekian tempat terindah di Indonesia, bahkan di dunia. Pemandangan yang paling menakjubkan justru muncul dari kawasan di sekitar lembah Gunung Bromo, yaitu Lautan Pasir berwarna abu-abu kecokelatan hasil semburan kawah Gunung Bromo yang mengandung belerang. Agak jauh dari kawah, terdapat padang savana serta sungai yang berada di lahan seluas 5.250 hektar. Dari atas, padang ini tampak sungguh indah – seperti suasana di zaman pra sejarah. Diam-diam saya membayangkan sesosok dinosaurus lewat di hadapan saya. Dahulu, Bromo merupakan gunung berapi raksasa bernama Tengger yang meletus 250.000 tahun lalu sehingga membentuk kawah besar (kaldera). Lautan Pasir itu kini dikelilingi oleh dinding kaldera. Di atas kaldera itu sendiri terdapat lima buah gunung yang terbentuk karena aktivitas vulkanis. Bromo termasuk salah satu gunung tersebut dan dikenal paling aktif.

21

Kami berkendara menuju sebuah area yang kini dikenal dengan nama Bromo- Tengger-Taman Nasional Semeru dari arah barat daya. Seluruh lereng gunung dipenuhi oleh tanaman tropis, sedang tebing yang berbatu dan semak  belukar mengapit jalan yang dilalui oleh jip yang kami tumpangi saat melewati jalan kecil yang mendaki. Kabut tampak muncul lagi menjelang sore. Kami pun terpaksa berhenti tepat di depan Desa Ngadas, dan mengamati kabut yang perlahan bergerak turun ke lembah di bawah kami berada. Geraknya begitu lambat bak perahu hantu yang sedang berlayar memasuki pelabuhan. Di tempat ini, orang terbiasa mengamati kabut yang turun.Kami pun menginap di rumah Muliati, jabatannya sebagai mantan kepala desa membuatnya mendapatkan julukan ‘Bromo-Putra’. Rumah yang dimilikinya sangat sederhana – beratapkan bambu, dan berdinding beton. Kesibukan keluarga banyak berpusat di dapur yang terletak di ruang belakang. Kami pun duduk di atas dipan dekat perapian
dan Muliati menceritakan legenda yang ada sekitar Bromo, yang berasal dari nama Brahma, sang dewa pencipta dalam agama Hindu.

18Nama Tengger sendiri diambil dari sepasang kekasih bernama Puteri Roro Anteng dan Jaka Seger. Puteri Roro Anteng tersebut masih termasuk puteri keraton Majapahit bagian utara, dan kedua orangtua sang puteri tak menyetujui hubungan puteri mereka dengan Jaka, orang dari kalangan biasa. Akhirnya mereka melarikan diri ke gunung untuk menikah. Karena tak jua memiliki momongan, pasangan ini berdoa kepada sang Brahma di gua Widodaren. Mereka pun akhirnya dianugerahi 25 anak. Tetapi selalu ada harga yang harus dibayar, Brahma meminta agar anak bungsu mereka dilemparkan ke dalam kawah untuk membuktikan kesetiaan mereka kepada sang Brahma. Untuk akhir cerita tersebut, Muliati memaparkan dua versi cerita yang berbeda kepada saya: “Satu versi  mengatakan si orangtua setuju untuk mengorbankan anak mereka,” katanya. “Tetapi dalam versi lainnya, si orang tua menolak sehingga membuat gunung berapi itu murka. Si anak akhirnya memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri tanpa seizin orangtuanya untuk menenangkan Bromo. Lalu terdengar suara dari dalam kawah yang meminta agar penduduk meneruskan ritual pengorbanan mereka setiap tahun bila ingin selamat.” Dari cerita itulah akhirnya muncul ritual yang dikenal dengan nama Upacara Kasada yang diadakan setiap tahun, dan biasanya diadakan setiap Agustus. Versi cerita manapun yang Anda percaya, tujuan ritual ini adalah untuk menghormati pengorbanan yang telah dilakukan oleh keluarga, atau pun untuk memadamkan kemarahan Bromo.

14Beruntung sekali, tak ada anak-anak yang dikorbankan dalam ritual ini. Dalam upacara ritual yang dipimpin oleh kepada desa dan pemuka adat dari desa-desa di sekitar Bromo, ternak dan sesajen dilemparkan ke dalam kawah, sambil berharap panen yang melimpah dan gunung yang tak meletus. Sebenarnya, ritual ini dilakukan karena masyarakat memang menghargai Bromo, tak hanya semata karena tradisi. Upacara ritual tersebut juga menggambarkan berkah yang didapat dari Bromo karena abu vulkanik yang disemburkannya dapat membuat subur sawah para petani. Padi pun akhirnya bisa dipanen hingga tiga sampai empat kali dalam setahun. “Di sini, tanaman mudah tumbuh,” ujar salah seorang petani kepada saya. “Itulah mengapa kami merasa bersyukur dengan adanya Bromo.” Kami pun meninggalkan rumah Muliati saat jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, melewati jalanan dengan jeep hingga tiba di Lautan Pasir. Kabut tipis tampak rendah menggantung pagi ini, dan kami pun disuguhi pemandangan yang luar biasa – para penunggang kuda muncul dari gumpalan kabut bak siluet, dengan syal berwarna meriah dan topi yang mereka kenakan tertutupi kabut.

22Pemandangan itu terekam baik dalam ingatan saya. Setelah berhenti sejenak untuk menikmati suasana matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Dekat Bromo terdapat Gunung Batok, dengan lereng berhiaskan guratanguratan bekas kikisan lahar yang terbentuk berabad-abad lamanya, sungguh menawan. Mendekati Gunung Bromo yang berada setelah Lautan Pasir, tanah yang ada mulai keras diinjak karena terdiri dari batuan megalitikum. Jalanan yang tajam mendaki membawa kami tepat di bibir kawah. Menatap ke dalam perut Bromo sungguh membuat takjub – mulut bumi yang terbuka, sebuah jendela menuju sumber panas bumi yang terus bergolak di bawah kaki kami. Bromo selalu membuat semua orang khawatir. Tak ada yang dapat memprediksi kapan gunung ini meletus – letusan bisa terjadi setiap empat hingga 16 tahun sekali – dan bahkan sering tanpa didahului dengan tanda-tanda, walaupun peralatan modern terus aktif memantau aktivitas gunung berapi ini.

Letusan – yang berlangsung dari November 2010 hingga Maret 2011 – merupakan yang terparah sejak tahun 1826. Selama tiga bulan, batuan panas berwarna merah terlontar dari kawah dengan tinggi hampir mencapai 500 meter. Ahmad Sultan, satu dari dua pengamat gunung berapi di kantornya mengatakan bahwa saat itu dia baru beberapa bulan saja bekerja di tempat itu sebelum letusan terjadi. “Saya beruntung bisa melihat langsung ke lokasi walaupun
cukup mengerikan. Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut.” Walau tak ada batuan panas yang terlempar
dari kawah saat kami mengunjungi Bromo, ada perasaan yang tertinggal sehabis berada di atas energi panas bumi. Ada perasaan begitu kecil dan tak berarti, tetapi sekaligus lebih bersemangat karena dapat menengok sejenak ke masa lalu.

5 Senses – Sight
SUNRISE

23Anda harus bangun jam 2 pagi untuk berkendara hingga mencapai titik observasi di Gunung Pananjakan, setinggi 2.770 meter untuk melihat keindahan Gunung Bromo dan gunung di dekatnya, Gunung Batok. Perjalanan panjang langsung terbayarkan saat menyaksikan keindahan sinar matahari terbit di atas cakrawala. Bila Anda menunggu sekitar satu jam atau lebih setelah terbitnya matahari, Anda akan mendapatkan pencahayaan sempurna yang dapat diabadikan lewat kamera.

5 Senses – Sound
SILENCE OF THE VALLEY

25Jika Anda ingin menghindari keramaian, beranjaklah ke perkebunan yang berada di Desa  Cemoro Lawang. Di sini terdapat banyak jalan alternatif menuju lereng gunung yang sepi. Memang titik yang dituju tak setinggi jalan biasa, tetapi Anda bisa menikmati panorama yang indah dalam keheningan.

5 Senses – Scent
SULPHUR

26Bau asap belerang yang keluar dari Gunung Bromo langsung tercium begitu Anda berada di bibir kawah. Bau menusuk yang tercium saat setelah terengah-engah mendaki memang tak mengenakkan, tetapi pemandangan indah di atas Bromo cukup untuk menghilangkan ketidaknyamanan ini. Selama aktivitas seismik yang tinggi, kadar belerang bisa mencapai tingkat mematikan, membuat tanaman di sekitar gunung ini mati. Tanaman yang  mengelilingi kantor pengamatan vulkanologi sendiri sempat mati karena racun gas belerang di tahun 2006.

5 Senses – Touch
SEA OF SAND

27Meletusnya kubah lava setinggi  4500 meter yang terjadi sekitar 250.000 tahun lalu mengakibatkan lautan pasir berwarna hitam kecokelatan yang lembut diinjak saat Anda mengunjungi Gunung Bromo. Lautan pasir tersebut sebagian besar terdiri dari batuan andesitic yang terlontar dari dalam gunung berapi sewaktu meletus. Bromo telah meletus lebih dari 50 kali sejak letusan di tahun 1804, membuat pohon dan tanaman berselimut debu.


Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *