Ambon


Pulau Ambon berada di tengah pusat budaya dan sejarah Kepulauan Maluku. Pulau ini menjadi salah satu rute pesawat ATR 72-600 ‘Explore’ dari Garuda Indonesia. Eric Randolph mengulas pesona keindahan alam Ambon untuk Anda.

30Tanah Pulau Ambon ini memang subur, beragam tanaman tropisnya tampak tumbuh lebat hingga ke daerah pesisir. Dari udara, pulau ini seperti hutan yang sedang separuh terendam di tengah perairan Laut Banda. Ujung pepohonannya tampak menutupi tengah pulau, melambailambai dengan tanjung dan pantai tampak menyembul di antaranya. Selama berabad-abad lamanya, kekayaan fauna di Ambon dan Kepulauan Maluku telah menarik banyak pendatang dari berbagai negara – awalnya mereka datang untuk berdagang, namun kemudian berusaha menguasai pulau ini. Kini, kepulauan ini mendapatkan kedamaiannya kembali setelah bertahuntahun mengalami masa pergolakan, penduduknya siap menyambut mereka yang datang untuk menikmati keindahan alam kepulauan ini. Dua buah teluk besar yang hampir memisahkan Ambon menjadikan pulau ini tempat ideal bagi kaum kolonialis untuk mengeruk harta karun yang berada di kepulauan sekitar Ambon – cengkeh dari Pulau Ternate di sebelah utara dan pala dari Kepulauan Banda ke tenggara. Tanaman rempah-rempah ini begitu berharganya – khususnya pala, yang manjur untuk mengobati wabah penyakit – sehingga memicu para kolonialis untuk menduduki kepulauan ini. Dimulai dari bangsa Portugis yang menguasai Ambon tahun 1513, namun kemudian mendapatkan perlawanan dari penduduk lokal beberapa puluh tahun kemudian.

29
Local fishermen at the harbour in Pintu Kota on the south coast of Leitimur

Bangsa Portugis akhirnya terusir oleh kedatangan Belanda di tahun 1605, yang menjadikan Ambon sebagai markas VOC atau kompeni hingga tahun 1619, dan tetap menjadi pusat penghasil cengkeh hingga abad ke-19. Namun sejarah Ambon yang pernah mengalami masa penjajahan tak membuat keramahan penduduknya menjadi berkurang. Melewati desa-desa di pesisir pantai bak memasuki dunia yang penuh kedamaian. Pemandangan di sepanjang pesisir pantai menuju Desa Hatu dan Laha, sungguh menakjubkan. Pagi-pagi sekali, anak-anak sudah bermain di laut yang tenang, terjun dari atas perahu yang tengah bersandar di dermaga. Rumah-rumah bercat krem muda tampak di jalan-jalan pedesaan. Orang-orang lebih banyak beraktivitas di luar rumah – para wanitanya banyak berbincang santai di tepi jalan atau  bermain bingo, sementara para prianya bercengkrama sambil minum kopi atau mengisap rokok di balai-balai. Dan mereka masih sempat melambaikan tangan serta memberikan senyuman kepada orang asing yang lewat.

Kami pun menuju sebuah gereja yang elegan di atas bukit di Laha. Para jemaat mendaki melewati jalanan berundak demi menjalankan ibadah di hari Minggu. Di tempat ini, lebih banyak sapaan, senyuman dan jabat tangan yang kami dapatkan, di tengah berkumandangnya lagu-lagu pujian. Dalam perjalanan kembali ke daerah pesisir, kami berhenti di Maluku Divers Resort, pusat menyelam dan hotel pertama di pulau ini. Bagi mereka yang menyukai wisata bawah air, tak banyak tempat yang dapat menandingi indahnya alam bawah air Ambon. Perairan dangkalnya memiliki biota laut yang sangat beragam dan unik, seperti rhinopias, ikan mandarin, blue ring, hairy octopi dan pygmy seahorse. Ambon ditetapkan sebagai  satu dari ‘muck diving’ terbaik di dunia – daerah perairan dangkal memudahkan penyelam melihat biota laut yang tinggal di dasar laut – sangat pas bagi penyuka foto bawah laut.

Pulau ini memiliki beberapa pantai yang indah, tetapi daerah
pesisir Ambon yang berbatu juga sangat menarik.

36Pulau ini memiliki beberapa pantai yang indah, tetapi daerah pesisir Ambon yang berbatu juga sangat menarik. Teluk yang berada di Pintu Kota sepertinya yang tercantik di pulau ini – tebing batu, air yang jernih dan lengkung- lengkung yang terbentuk alami dari bebatuan. Dari atas lereng tebing, kami memandangi perahu nelayan yang berwarna-warni yang bergerak menuju lautan bebas. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju ibu kota provinsi, Kota Ambon, untuk menjelajahi pesona yang ditawarkan kota ini. Kami mampir di Sibu Sibu, rumah kopi terkenal di pulau ini. Di sini kami berkenalan dengan sekelompok warga Ambon Belanda. Mereka lahir di Belanda karena ayah-ayah mereka berimigrasi ke negara tersebut sebagai tentara kolonial. Kini dalam usia 50-an, mereka memiliki banyak cerita seru mengenai masa muda mereka di tengah radikalisme politik serta hubungan daerah ini dengan para tokoh politik di Jakarta. Mereka mengundang kami untuk bersantap malam di Lunterse Boer guesthouse yang mereka dirikan di Pantai Natsepa, tempat yang menyediakan kuliner lokal seperti ikan makerel bakar yang disantap dengan saus  bernama colo-colo.

32
Fish at a market in the Lease Islands

Ikan adalah hal utama dalam kehidupan masyarakat Ambon, sumber penghasilan pokok dan menu utama yang  segar. Ada banyak rumah makan yang bisa Anda temui di sini, menyajikan makanan rumahan yang sederhana. Ada rumah makan yang berlokasi tak jauh dari Sibu Sibu, sebuah kantin kecil yang menawarkan beragam menu lokal seperti ikan kerapu bakar, ikan makerel, daun pepaya, tumis jantung pisang, kohu-kohu (campuran kelapa, ikan dan sayur) serta beragam penganan dari beras kelapa yang dibungkus daun kelapa. Setelah santap siang, kami pun mampir ke Museum Siwalima yang berada di luar kota. Di sana kami mempelajari sejarah pulau ini, dengan beragam artefaknya yang sempat digunakan dalam ritual animisme serta perhiasan kuno dari tulang dan kuningan. Namun yang paling menarik dari museum ini adalah lokasinya yang berada di atas bukit di mana pemandangan teluk yang indah dapat dilihat dari tempat ini.

33
A cannon on the Dutch fort in Saparua Lease.

Untuk mengetahui tentang sejarah kolonialisme, kami pun menuju ke utara pulau, tepatnya di Desa Hila di mana terdapat Benteng Amsterdam, yang dibangun pada abad ke-17 sebagai benteng pertahanan Belanda. Setelah direnovasi tahun 1990, Benteng Amsterdam ini kini dihuni ratusan walet yang terbang di bagian kerangka atap bangunan dan keluar masuk lewat ventilasi yang menghadap laut. Tak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah bangunan gereja Katolik yang usianya lebih tua dari Benteng Amsterdam. Dibangun oleh Portugis, bangunan beratapkan rumbia kerap didapati pada bangunan besar di pulau ini. Hila merupakan bukti keharmonisan
masyarakat Ambon, di mana umat Kristiani dan Muslim hidup bersama dalam satu atap. Kota ini masih memiliki seorang sultan – kini banyak upacara besar yang dipimpin oleh sultan di sebuah masjid indah yang terletak hanya beberapa meter dari gereja. Ambon juga merupakan hub bagi mereka yang pelesir di Kepulauan Maluku. Kami berwisata satu hari ke Saparua – suatu tempat di Kepulauan Lease yang dapat dicapai hanya dua jam dengan feri.

39
A beachside bar in Saparua Lease Island.

Tempat ini memiliki suasana yang lebih santai. Putihnya pasir pantai milik Putih Lessi bungalow yang berada di Kulur, atau taman labirin milik Mahu Resort sangat menyenangkan. Kepulauan ini juga menawarkan tempat-tempat menyelam yang tiada tandingannya. Dengan sejarah, budaya, kuliner dan keindahan alamnya, Ambon tumbuh cepat menjadi salah satu destinasi yang paling populer bagi para wisatawan di Indonesia. Bila Anda ingin menikmati keindahan alam bawah laut atau pegunungannya yang tak terlupakan, Ambon akan menyuguhkannya untuk Anda.


5 Senses – Touch
DIVING IN AMBON

Anda bisa melihat lebih dekat lagi kehidupan biota laut yang berada di lokasi penyelaman kelas dunia. Pulau ini menawarkan beragam kesempatan muck diving di mana Anda dapat menemukan berbagai spesies seperti ikan katak yang baru saja ditemukan di Ambon. Di perairan dalam, Anda dapat berenang bersama lumba-lumba, hiu, penyu raksasa dan pari manta. Maluku Divers Resort menawarkan paket menginap dan eksplorasi keindahan
alam bawah laut.

5 Senses – Taste
SARI GURIH  RESTAURANT

Di restoran Sari Gurih, Anda dapat menemukan menu ikan segar, hasil tangkapan hari 40itu yang ditempatkan dalam kotak-kotak pendingin berisi ikan kerapu, ikan kakap, kepiting, lobster dan banyak lagi. Daun singkong dan pepaya serta mangkok besar berisi kuah ikan adalah menu lezat terfavorit di rumah makan ini. Anda juga dapat bernostalgia engan mesin karaoke yang ada di sini. Jl. Kopra, Ambon, Maluku.

5 Senses – Sight
AMBON WAR CEMETERY

41Tepat di luar kota terdapat tempat peristirahatan bagi sekitar 2000 tentara korban Perang Dunia Kedua. Ambon jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942 dan menjadi ladang pertempuran hingga beberapa tahun. Kini, tempat ini sangat indah dan damai, ditumbuhi banyak pohon beringin dan batu nisan bertuliskan pesan-pesan menyentuh dari anggota keluarga, sangat berlawanan dengan trauma masa lalu.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *