Ambon


Akhirnya saya sampai juga di Kota Ambon. Saat ini saya sedang duduk di restoran Sari Gurih, sebuah restoran yang ramai dan benderang di pusat kota. Tepat di depan saya terdapat semangkuk besar papeda, masakan yang terbuat dari sagu, dan disajikan bersama dengan semangkuk besar ikan kuah kuning. Seorang wanita muda sedang menyanyikan beberapa lagu jazz dengan indahnya, berbagi panggung bersama seorang DJ. Tak salah lagi. Glen Fredly berasal dari Ambon dan kota ini memang terkenal dengan talenta musik masyarakatnya serta kelezatan kulinernya!

Papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan kuah kuning dengan porsi yang rasanya cukup untuk memberi makan seluruh tamu di pesta perkawinan (tapi saat ini kami hanya berdua!). Seni menyajikan papeda mirip seperti sebuah ritual; kuah kuningnya dicidukkan ke dalam mangkuk kecil terlebih dahulu, baru kemudian papeda-nya disendok dengan menggunakan dua capit bambu khusus, diaduk sedikit dan didorong pelan-pelan hingga tenggelam ke dalam mangkuk. Campuran kaldu yang terasa tajam dan manis, daging ikan putih dan sagu yang lembut, merupakan sebuah perpaduan luar biasa dalam tekstur yang baru ini. Warnanya sangat menggoda; mangkuk saya seperti dipenuhi sekumpulan mutiara sagu yang mengambang di tengah-tengah kaldu berwarna kekuningan. Tapi yang baru untuk saya adalah kehadiran belimbing wuluh, buah belimbing kecil yang tadinya saya pikir tomat hijau, dan pecahan kenari yang mengambang di atas kaldu, menambahkan rasa gurih. Mencicipi kelezatan papeda, dan kuah ikan kuning saat berkunjung ke Ambon adalah satu hal yang tak boleh dilewatkan.

Di hari kedua, saya menuju ke pasar yang terletak di kota, tepatnya di sepanjang sungai, dan jika Anda masuk terus hingga melewati los ikan segar, Anda bisa menikmati pemandangan indah pelabuhan. Semua bahan-bahan masakan bisa ditemukan di sana, termasuk juga bahan yang jarang ditemukan. Tampak sekeranjang buah pala, sagu dan daun singkong yang dibentuk bulat, bunga pepaya, pepaya hijau parut, mangga hijau potong untuk bahan sambal, kelapa parut, kacang almond lokal, tomat dan tentu saja cabai yang terlihat di berbagai tempat. Pemandangan kuliner Ambon menyuguhkan beragam warna-warna indah dan kesegaran bahan alami.

Di Jalan Piere Tendean kami memasuki sebuah dunia roti. Ibu Etha dan Ibu Coning mengelola kios kue kecil di pinggir jalan dan kami menemukan mereka sedang sibuk mencampur dan mengaduk-aduk adonan yang menggunung untuk membuat bakpao unti (bakpao dengan isi kelapa manis), panekuk vla cokelat (panekuk cokelat lembut dengan isian custard), dan kue timus Ambon (kue singkong dengan kelapa dan juga kue-kue manis lainnya yang ditemukan di kios tersebut). Kerja keras dan dedikasi selama bertahun-tahun telah terbayar dan walaupun mereka sudah bekerja cepat mengolah kue, antrean panjang pembeli tak juga reda. Selama kami mengamati, Ibu Coning sudah menyiapkan sekitar 200 panekuk vla cokelat, dan kemudian lanjut dengan membuat sekitar 250 roti goreng – roti donat isi kentang.

“Saya membuatnya sama seperti yang diajarkan ibu saya,” katanya bangga. Saya mencoba satu kue yang masih hangat, rasanya seperti donat brioche, isi kentangnya memberikan rasa dan tekstur yang pas. Saya membayangkan donat itu berisi karamel custard yang asin. “Orang di sini suka yang rasanya manis,” kata Ibu Coning.

Tempat yang saya kunjungi berikutnya, Betarumah di Jalan Said Perintah. Kafe ini menyajikan banyak masakan rumahan khas Ambon yang menggiurkan, dihidangkan dengan rapinya di atas daun pisang. Saya mencoba untuk mencicipi semuanya dan terpesona dengan kesegaran setiap masakannya, yang serupa tapi tak sama dengan makanan Bali. Kami menikmati menu kohu-kohu (salad ikan asap), sayur jantung pisang (jantung pisang yang dimasak), bunga pepaya (bunga pepaya dengan daun singkong), ikan asin bumbu cili (ikan asin dengan cabai), colo-colo (sambal dengan tomat segar dan cabai), dan ikan kuah kuning (ikan kuah kunyit), dan makanan khas Ambon yang lezat lainnya.

Rumah kopi Sibu-Sibu yang terletak di sebelah Betarumah menawarkan kopi khas Ambon dengan interior penuh warna yang bisa membuat Gauguin bangga. Poster para penyanyi Ambon dan beberapa orang lainnya yang tampak glamor (dilihat dari gaya rambutnya, kira-kira berasal dari tahun 1960) memenuhi dinding hingga ke langit-langit. Kopi selalu identik dengan percakapan dan dari yang saya baca, Sibu-Sibu menjadi tempat pertemuan untuk mendiskusikan nasib Ambon saat terjadi konflik masyarakat baru-baru ini, mungkin juga tentang hal lainnya. Terasa ada sedikit aura Che Guevarra disini. Kopi favorit di tempat ini adalah kopi Rarobang, yang diramu dengan rempah-rempah dari daerah setempat juga potongan tipis kacang kenari almond. Kopi yang renyah: saya menyukai rasa kenari ini.

Ada juga menu yang menarik untuk dicicipi dan berbagai pilihan kue khas daerah setempat yang empuk, tapi saya memilih nasi uduk ala Ambon yang dibungkus daun pisang (di Bali kami menyebutnya Nasi Jenggo). Saya mencicipi nasi santan yang lembut nan wangi dengan taburan kelapa parut yang telah dibumbui dan ikan. Siapa bilang minum kopi harus ditemani kue?

Setelah puas bermalas-malasan di teras hotel kami di Natsepa Resort, dan menikmati panorama luar biasa pulau-pulau di kejauhan, yang merupakan salah satu destinasi selam terbaik di dunia, kami menuju Pantai Natsepa untuk menikmati rujak. Barisan kios pinggir jalan yang berada di pantai ini menjual rujak khas Ambon hingga senja hari. Di sore ini kami sudah sibuk menikmati sepiring kecil nanas, jambu, pepaya, belimbing dan jambu air yang dipenuhi sambal rujak. Saya terkesima dengan bumbu kacangnya; sausnya menyerupai bumbu pecel, yang ditambahi asam, cabai (dengan suara dipelankan karena saya wisatawan, begitu yang saya dengar dari pembicaraan mereka) dan juga gula kelapa. “Kacangnya membuat semua terasa lezat, bukan begitu?” kata seorang nenek yang terus mengulek kacang untuk pesanan berikutnya. Jambu airnya benar-benar lembut seperti buah pir, tidak seperti yang pernah saya makan di Bali. Kami memesan porsi kedua, lalu memandangi matahari yang terbenam di balik luasnya lautan seraya menikmati perpaduan sempurna rasa manis, asam, asin dan pedas.

“Saya selalu menilai sebuah tempat dari orang-orangnya dan orang Ambon sangatlah ramah dan senang menjamu; anak perempuan saya menilai mereka termnasuk orang-orang yang paling ramah di indonesia”

Ratu Gurih, di Jalan Diponegoro, menyajikan pilihan makanan laut lengkap yang dimasak dengan berbagai bumbu yang berbeda. Saya memilih baronang yang dibakar di atas arang dan juga kecambah yang ditumis dengan ikan asap dan cabai. Sambal tomat – yang berisi tomat hijau dan kemangi – dan sambal kacang disajikan bersamaan. Dengan sambal-sambal seperti ini, Anda hanya butuh nasi sebagai pelengkapnya.

Ambon, tak jauh beda dengan kota lainnya di Indonesia, tapi begitu Anda berkendara di daerah pesisir, menjauh dari pusat kota, Anda bisa melihat Garden of Eden muncul di hadapan Anda. Ada pemandangan samudera yang menakjubkan di setiap sudutnya, pala, lawang, cokelat, pohon sagu, pohon pisang dan pohon buah-buahan yang menjulang seakan sedang berlomba mencari celah di surga botani yang subur ini.

Saya berdiri di teras Benteng Amsterdam, benteng Belanda tertua di Ambon, yang terletak di pesisir utara Desa Hila. Saya melihat ke seberang lautan yang berkilau, pala, dan pohon cokelat nampak di kejauhan, dan mengagumi bagian dari Indonesia yang penuh keajaiban ini, sebuah tempat berlibur di kepulauan rempah, harta karun luar biasa yang dipanen Belanda hingga ratusan tahun. Saya teringat pepatah lama: sejarah membentuk manusia, atau bisa sebaliknya?

Dan yang paling menarik dari perjalanan saya di Ambon ini adalah pelajaran memasak di Natsepa Resort dengan staf mereka yang ramah. Di ruang makan dengan pemandangan laut yang tak ada duanya ini, mereka menyiapkan sarapan nomor satu; ikan kuah kuning, menu ikan favorit baru saya, kohu-kohu, jeruk nipis dan cabai segar, sambal mangga (sambal mangga hijau), dan colo colo (sambal dengan tomat, bawang merah dan kemangi). Saya selalu menilai sebuah tempat dari orang-orangnya dan orang Ambon sangatlah ramah dan senang menjamu; anak perempuan saya menilai mereka termasuk orang-orang paling ramah yang pernah ditemuinya di Indonesia. Dan tentu saja, makanannya juga sangat luar biasa. Menjadikan hal tersebut sebagai dua alasan tepat untuk mengunjungi Ambon… dan jika Glen Fredly tampil di Ambon, alasannya bertambah satu lagi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *